Batiknews.com – Di dalam kerinduan pepohonan yang terbakar, lahir puisi yang mengheningkan alam. Puisi tentang kebakaran hutan mencoba merangkai luka-luka di dalam gemuruh api, menciptakan narasi yang menyayat hati. Dalam setiap bait, kita akan merasakan panasnya kobaran api yang memporak-porandakan kehidupan, namun sekaligus menciptakan pertobatan atas kelalaian manusia.
Langit yang seharusnya biru terang, kini terhalang oleh asap hitam yang melukiskan tragedi tak terelakkan. Puisi ini menghadirkan kepedihan hutan yang terjerat dalam perang melawan bara api, menjadi saksi bisu dari kehancuran yang terjadi. Melalui metafora dan simbolisme, setiap baris puisi memanggil kepedihan alam, mengajak kita merenung pada peran manusia dalam menjaga kelestarian lingkungan.
Jadi, mari bersama-sama meresapi makna yang terpendam di dalam puisi ini, menyatukan empati untuk hutan yang terbakar. Bukan hanya sebagai kumpulan kata-kata, melainkan sebagai seruan untuk lebih bijak dan bertanggung jawab dalam merawat alam, menjaga agar puisi ini tidak hanya menjadi kenangan sedih, tetapi juga panggilan untuk tindakan nyata.
Baca juga: Doa Kristen Saat Kebakaran
Puisi Tentang Kebakaran Rumah

Setiap ungkapan puisi ini merayakan kenangan dan emosi di tengah kebakaran rumah, di mana asap hitam menggulung langit-langit yang dulu kita panggil ‘rumah’. Kata-kata yang melonjak dan turun seperti nyala api menyampaikan nuansa kehilangan, tetapi juga kekuatan untuk bangkit kembali dari puing-puing.
Dengan merenung dalam bait-bait ini, kita diajak untuk melihat kebakaran bukan hanya sebagai akhir, tetapi juga sebagai permulaan baru untuk membangun kenangan yang lebih kokoh.
Judul: Rumah yang Terbakar
Oleh Gina Nabila
Entah kapan mereka akan berhenti
Untuk terus menyakiti
Satu sama lain yang dulunya tak terjadi
Orang-orang yang aku sayangi
Kini sudah tak sama lagi
Amarah yang berapi-api
Sudah seperti sarapan pagi
Terjadi setiap hari
Tanpa ada yang ingin berhenti
Mengalah demi kedamaian dalam diri
Keluargaku yang dulu terasa berarti
Kini hanya sebatas hubungan tanpa arti
Yang terjalin tanpa ikatan emosi
Terpisahkan oleh tembok yang tinggi
Berjarak jauh dan saling terasingi
Untuk malam ini
Aku putuskan untuk pergi
Menjauh dari pemandangan ngeri
Yang merusakku hari demi hari
Aku akan kembali
Saat rumahku sudah tak terbakar lagi
Judul: Rumah Adat Yang Terbakar
Oleh Agus Thuru
Atap alang-alang boleh musnah
Dilalap kobaran api
Tapi roh leluhur tetap hidup
Menjiwa pada seluruh jiwa
Anak cucu keturunannya
Puing-puing bangunan Sa’o Ngaza *)
Menggores luka di kedalaman hati
Tapi tidak untuk meluluhkan hasrat
Karena jiwa dan raga anak keturunan
Masih kuat untuk kembali tegak berdiri
Ngadhu ) dan bhaga) boleh dilahap api
Lebur pada debu tanah leluhur
Tapi namanya tetap kuat tertanam
Dalam aliran darah para pewarisnya
Esok di saatnya dibangun kembali
Batu-batu magis di kuburan leluhur
Pada ture*) mesbah persembahan
Dan tiang batu bermakna nama besar
Akan tetap ada di kampung kesuburan
Menyongkong jiwa untuk bangkit.
Jiwa-jiwa tulus masih dilahirkan
Untuk menyusun kembali
Batu-batu yang berserakan
Menyulam kembali bilah-bilah kayu
Menjadi rumah bersemayam leluhur
Ritual-ritual akan tetap berakar
Di tengah cucuran keringat pengabdian
Kekuatan anak cucu suku keturunan
Akan mendirikan tiang yang kokoh
Dan leluhur merangkul dengan cinta
Kampung kita
Leluhur kita
Jiwa kita
Kehidupan kita
Selamanya tak akan termusnahkan
Judul: Pemadam Kebakaran
Wiu .. Wiu ..
Telah terjadi kebakaran
Orang-orang berkerumun
Si jago merah meronta-ronta
Pemadam kebakaran datanglah
Kami membutuhkan kalian
Seluruh rumah terbakar
Tidak ada yang selamat
Dengan gagah berani
Meraka melompat turun
Mengambil selang
Memjinakkan api itu
Pemadam kebakaran …
Terima kasih,
Dengan jasamu
Tidak ada korban jiwa
Puisi Tentang Kebakaran Hutan dan Lahan

Puisi ini menyusuri lorong-lorong hutan yang terbakar, di mana alam merintih dan tanaman menyemburkan aroma kepedihan. Dalam setiap barisnya, kita menyaksikan hutan yang pernah hijau, kini terbakar menjadi api yang merayap.
Melalui keindahan kata-kata, puisi ini membangkitkan kesadaran akan kerugian ekologis dan mengajak kita untuk merenung tentang peran kita dalam melindungi alam. Bait demi bait, kita diingatkan bahwa setiap pohon yang tumbang membawa laporan terdalam dari bumi yang menangis.
Judul: Hutanku yang Malang
Batangmu diselimuti bara,
Daunmu nyalakan api,
Akarmu kuncup tak terbata,
Pucukmu hangus ditelan mentari.
Oh hutanku, betapa malang nasibmu,
Tak tanggung manfaat yang kau beri,
Namun dengan tega mereka membunuh,
Kala kau tertidur dalam mimpi.
Oh hutanku, inilah takdirmu,
Tak lagi kita kan bertemu,
Betapa haru dan pilu hatiku,
Atas segala derita yang menimpamu.
Betapa iba hati mengingat,
Betapa panas api menyengat,
Kupadamkan dengan penuh semangat,
Meski kulitku terbakar dan pucat.
Namun tak urung semangatku,
Tak henti berpacu dengan waktu,
Angin kencang kian menggebu,
Melalap semua yang berlalu.
Oh, malangnya,
Dikala engkau mengais asa,
Hanya ada sisa-sisa bara,
Api kian membesar saja,
Engkau hangus sia-sia.
Judul: Para Pembunuh Asa
Pagi itu, aku terbangun,
Keluar rumah ingin menyentuh embun,
Ke belakang rumah menyapa kebun,
Mengusik daun-daun yang rimbun.
Sesampainya disana, aku baru teringat,
Ternyata hari-hari telah begitu pekat,
Pekat dengan kabut asap yang menyengat,
Melumpuhkan semua yang didarat.
Setega itukah para perusak,
Sesudi inikah membuat serak?
Sungguh aku tak habis pikir,
Betapa raga ini amat getir.
Bunga-bungaku layu,
Ditimpa kabut dan gumpalan debu,
Hasil hangusnya daun dan kayu,
Dari terbakarnya hutan-hutanku.
Hai, para pembunuh asa,
Tidakkah kau dengar teriakan rimba?
Tidakkah kau pedulikan rintihan manusia?
Mereka korban yang tak bersalah.
Judul: Tangisan Hewan
Teriakan semakin keras,
terdengar begitu mencadas,
Hewan-hewan memaki,
Mengutuk diri dan berlari.
Apa yang hendak dituju,
Sedang tangis kian pilu?
Kemana kau akan pergi,
Sementara sembilu menusuk hati?
Tidakkah tangisan hewan,
Mengetuk nurani kalian?
Tidakkah rintihan binatang,
Menyadarkan buruknya kehancuran?
Rumah-rumah mereka kalian bakar,
Tempat bermain dipenuhi api menjalar,
Kapan semua ini akan berakhir?
Bila lagi masanya senyum menghias bibir?
Tangisan hewan semakin menyorak,
Seduan mereka kian mengoyak,
Aku hanya bisa hening terdiam,
Mengintip takdir dari dalam kelam.
Judul: Hujan Tak Datang di Pesta Api
Oleh: Sugeng Joko Utomo
Menjelang tengah malam
Seluas langit pekat mengelam
Tak satu pun bintang mengintai
Tak juga bulan melambai
Kuncup-kuncup mawar rimba melayu
Tak lagi sabar menunggu
Hendak mereguk hujan merinai
Namun awan rebah terbantai
Menara duri semakin tinggi
Tanpa penyangga langsing berdiri
Berburu butiran embun
Berjingkat tinggalkan dedaun
Telinga merindu gemuruh petir
Kaki menunggu genangan banjir
Jangankan berbondong datangnya air
Setetes pun tak nampak hadir
Asap panas membangun istana
Bertiang api beratapkan mega
Deru dengkur bukan tidur lelah
Resah mengaum tersulut amarah
Wahai malam
Tetaplah kelam
Wahai siang
Usah kau datang
Pekat udara tiada mudah dibeda
Siang dan malam nyaris serupa
Hijau hutan musnah dibakar
Makhluk bernyawa rebah terkapar
Paru-paru bumi berasap sekarat
Paru-paru kita mampat tersumbat
Judul: Kami Rindu
Aku, dia dan mereka,
Pada satu asa yang sama,
Berharap pada mimpi bersama,
Yaitu rindua yang tiada dua.
Kami rindu langit biru,
Dimakan asap yang menggebu,
Ditelan kebakaran hutan yang mengendu,
Diselimuti debu yang memilu.
Kami rindu awan cerah,
Yang lenyap timbulkan resah,
Dengan terpaksa hadirkan gundah,
Yang sudi percikkan gelisah.
Kami rindu matahari pagi,
Kini kemana ia lari?
Dimana sinaranmu terpatri,
Nyatanya, hilang bak ditelan bumi.
Kami rindu semuanya,
Senyum, tawa dan gembira,
Kini semuanya telah sirna,
Sebab kejamnya ulah manusia jua.
Kini, yang tersisa hanya tandus,
Yang tertinggal kayu hangus,
Bagai pedang tajam menghunus,
Dengan kuat hati kamu tertembus.
Judul: Pasrah Ditengah Dendam
Tak bisa berbuat apa-apa,
Hanya diam, menunggu kobaran reda,
Belum sempat tumbuh, api telah membara,
Di hutan-hutanku tercinta.
Pasrah, hanya bisa berserah diri,
Atas apa yang melanda hari,
Gelap, berasap dan berapi,
Menghiasi segenap langit NKRI.
Terdiam dan membisu,
Menunggu angin membawanya lalu,
Menanti hujan kan mengguyur,
Semoga lekas derita melebur.
Dibalik itu,
Ada satu rasa yang amat kaku,
Yaitu dendam dihatiku,
Tak lekang dan bersarang utuh.
Ya Tuhan, tunjukkanlah kuasamu,
Berikanlah kami pertolonganmu,
Ditengah kobaran yang kian menggebu,
Kamu bosa bercengkrama dengan debu.
Ya Tuhan, haruskah aku dendam?
Haruskah asaku terus mengancam?
Padamkanlah, matikanlah,
Api-api yang semakin menjarah.
Judul: Mari Sadarkan Diri
Untuk semua yang telah berlalu,
Biarkanlah ia berlalu,
Namun, jadikan ia pelajaran,
Untuk kedepan sebagai pedoman.
Kini, marilah bersatu,
Rangkullah jemari tanganku,
Teguhkan pundakmu dan pundakku,
Hancurkan semua keraguan dihatimu.
Mari bersama bercermin diri,
Ayo bersama sadarkan hati nurani,
Untuk masa depan dimulai dari kini,
Mewujudkan lingkungan yang Harmoni.
Ratusan ribu hektar hutan musnah,
Pasti timbulkan rasa yang gelisah,
Namun yang sudah biarlah sudah,
Saatnya kita untuk berbenah.
Tancapkan niat kuat dalam hati,
Bulatkan tekat dan optimisme diri,
Mewujudkan lingkungan yang asri,
Jangan lagi biarkan tersinggung api.
Puisi Tentang Kabut Asap

Melalui puisi ini, kita menjelajahi lapisan kabut asap yang menyelimuti langit dan meresapi setiap hembusan angin. Bait-baitnya menggambarkan gambaran tentang dunia yang hilang dalam kabut, dan setiap kata menciptakan pengalaman tentang kehampaan yang disebabkan oleh kabut asap.
Puisi ini mengajak kita untuk meresapi realitas abu dan berpikir tentang tindakan kita yang mungkin menciptakan kabut tersebut. Dengan cermat, kita diajak untuk bertanya pada diri sendiri, apakah kita siap memulihkan kejernihan langit yang dulu kita kenal.
Judul: Tuhan, Aku dan Kabut Asap
Aku, tak berdaya,
Menatap alam sekitar,
Kupu-kupu tak lagi ria,
Capung terbang terombang derita.
Aku, mengikis sisa-sisa asa,
Ditepi relung penuh derita,
Akan kabut asap yang bawa luka,
Hanguskan hutan dan rimba.
Tuhan, sampai kapankah begini,
Apakah selamanya seperti ini?
Tumpahkanlah kesegaran bagi kami,
Untuk bernafas bebas setiap hari.
Tuhanku,
Kembalikanlah keceriaan anak-anak,
Ubahlah murung menjadi sorak,
Jadikan tawa pengganti teriak.
Lelah, padam an sesak,
Kabut asap menggiring dampak,
Atas segala yang terjadi,
Hanya Pada-Mu memohon perlindungan diri.
Judul: Tebalnya Kabut dan Harapan
Seakan semua sirna,
Kala malam perlahan tiba,
Aku menatap dari jendela kaca,
Tentang kisruh dalam realita.
Bak badai padang pasir,
Kabut dan asap perlahan mengusir,
Harapan besar tinggal segelintir,
Mengikis asa dihadapan takdir.
Sampai kapan seperti ini?
Apakah harapan akan mati?
Atau kabut asap yang segera pergi?
Entahlah, Biar Tuhan yang Menghendaki.
Yang jelas,
Sisa harapan kian mencadas,
Raut pilu semakin membekas,
Begitu tega kabut merampas,
Merebut bahagia tanpa batas.
Ya Tuhan, hilangkanlah musibah ini,
Padamkanlah semua Api,
Kami rindu sejuknya udara pagi,
Hanya pada-Mu kami berserah diri.
Judul: Tolong, Kembalikan Udara Kami
Setiap pagi, sore dan malam,
Kami bercengkrama dengan kelam,
Hari-hari kian memburam,
Bagai terjebak dalam padam.
Jarak pandang yang menyiksa,
Terbitkan keluh hadirkan derita,
Entah dimana ini ujungnya,
Menanti obat pelibur lara.
Ya Allah,
Kembalikanlah Udara kami,
Kami rindu suasana dulu lagi,
Dimana pagi bertatapan dengan mentari.
Ya Allah,
Datangkan kembali cerahnya hari,
Kami rindu keringat bahasi diri,
Yang datang dari lelahnya badan ini,
Kala bekerja di tengah hari.
Andai semua ini segera berakhir,
Tak tahu apa yang pastas terucap,
Untuk menggambarkan rasa terima kasihku,
Pada-Mu-lah kami berharap.
Tolonglah, Ya Allah,
Dengan tangan ternganga penuh pasrah,
Lewat sisa-sisa secuil gairah,
Kami memohon secercah cerah,
Untuk kembalinya hidup yang Indah.
Judul: Siapa Yang Bertanggung Jawab
Lalu,
Setelah semua peristiwa ini usai,
Setelah semua fenomena pilu ini larai,
Bagaimana nasib yang terbengkalai?
Apa kabar yang telah tercerai berai?
Diurus? Dibiarkan?
Atau bahkan dicampakkan?
Tolong beri kami jawaban,
Berikan kami sejenak ketenangan.
Siapa yang akan bertanggung jawab,
Atas segala perihal yang membuat pengap?
Kepada siapa kami mengadu,
Sedang rasa kian menyendu?
Beri kami keyakinan,
Beri kami pertanggung-jawaban,
Kami butuh pengakuan dan pencerah,
Atas nasib kami yang pasrah.
Itu saja,
Tidak banyak-banyak,
Kami juga butuh penjelasan,
Sebagai pengingat di masa depan.
Judul: Mereka Tidak Bersalah
Setelah semua musibah ini berakhir,
Ada 1 hal yang amat aku sesali,
Yaitu jiwa-jiwa yang tak bersalah,
Tak berdosa,
Dipaksa menerima kenyataan,
Yang amat pahit itu.
Mereka belum mengerti,
Belum siap tuk memahami,
Belum sanggup menghadapi,
Urung temukan jati diri.
Bagaimana tidak?
Kabut tebal begitu congkak,
Yang terdengar hanya suara serak,
Dari penyakit-penyakit yang marak.
Mereka tidak bersalah,
Belum tahu apa-apa,
Sebegitu tegah kalian menjarah,
Membakar hutan hingga ke tanah,
Dan sudi melihat mereka pasrah?
Tolonglah, Tolonglah mereka,
Jangan bunuh karakter yang ada,
Mereka masih butuh penunjuk arah,
Bukan jalanan yang tak terjamah.
Judul: Puisi Kabut Asap Sedih
Bergulung putih awan,
Beracun menapak tanah,
Mata perih dan nafas sesak,
Terengah-engah.
Membakar paru-paru dunia
Dengan sengaja,
Hanya untuk menambah harta.
Hanya karena demi rupiah,
Yang ingin terus bertambah-tambah,
Hutan tropis yang subur dan kaya,
Tak memuaskan hati pengusaha.
Kabut asap menyergap ke segala arah,
Melampaui batas kota negara,
Dunia mengencam dengan polus udara,
Pemerintah berupaya dengan segala cara.
Baca juga:
Dalam setiap bait puisi yang mengisahkan kebakaran, kita menyaksikan potret dramatis dan berwarna dari peristiwa yang memilukan namun penuh makna. Melalui kata-kata yang terpilih, puisi ini membawa kita melewati lorong-lorong api dan meninggalkan jejak kenangan yang tak terlupakan. Kita merenung pada kehancuran yang diukir dalam bait-bait indah, tetapi juga diundang untuk menyaksikan kebangkitan di setiap barisnya.
Puisi tentang kebakaran tidak hanya menjadi sarana untuk menggambarkan kehancuran fisik, tetapi juga sebagai peringatan tentang api yang berkobar dalam jiwa manusia. Di tengah rona tragedi, kita menemukan panggilan untuk bersatu dan bersinergi, menghadapi tantangan yang melanda kita. Puisi ini tidak hanya menyentuh hati, tetapi juga membangkitkan semangat untuk bertahan dan membangun kembali apa yang telah hilang.
Semoga setiap bait puisi ini menjadi getaran kecil yang membawa kita pada kesadaran, bahwa dalam setiap kebakaran, terdapat panggilan untuk menyulut kebaikan dan keberanian. Mari kita bersama-sama memandang api, tidak hanya sebagai kehancuran, tetapi juga sebagai awal dari perubahan dan kebangkitan yang kita bina bersama.