Batiknews.com – Salah satu ciri dari kepasrahan hidup orang Kristen adalah keikhlasan ketika menghadapi kematian. Hal ini pula yang disampaikan oleh doa Kidung Simeon yang berisikan tentang doa dari seorang kudus bernama Simeon pada akhir hidupnya.
Doa ini mengajarkan kita betapa hidup itu adalah sebuah anugerah yang indah, namun kematian pun adalah sebuah kasih karunia yang harus diterima dengan lapang dada. Seperti dalam Alkitab mengatakan, bahwa hidup manusia itu singkat, seperti bunga rumput, yang pagi berkembang dan sore sudah layu.
Demikian juga dengan hidup semua orang di bawah matahari ini. Tidak ada yang abadi, semua sedang menunggu giliran untuk menghadap Sang Pencipta. Tetapi, sebagai orang percaya, teladan hidup dari Simeon ini bisa kita jadikan sebagai landasan hidup.
Memandang hidup dan mati sebagai sebuah hal yang indah, bukan penuh ketakutan. Bahkan Simeon sempat membuat kidung yang indah, sebab dia tahu ajalnya sudah dekat. Kepasrahan penuh kepada Tuhan seperti inilah yang dibutuhkan oleh anak-anak Tuhan hari-hari ini.
Sekilas Tentang Doa Kidung Simeon
Kidung ini merupakan sebuah himne atau yang biasa disebut sebagai canticle. Barisan doa ini dinyanyikan, sehingga hampir mirip dengan Mazmur Daud. Kidung ini merupakan doa yang dipanjatkan oleh Simeon setelah dia bertemu dengan Yesus yang kala itu masih bayi.
Cerita Tentang Kidung Simeon
Kidung Simeon ini dapat ditemui di dalam Injil Lukas atau lebih tepatnya ada di pasal 2 ayat 29 – 32. Di dalam injil ini diceritakan ada seorang yang benar dan saleh bernama Simeon. Dia sudah sangat tua, namun dia mendapat wahyu bahwa dia tidak akan mati sebelum melihat Sang Juru Selamat.
Maka, ketika Yesus sudah berusia delapan hari, kedua orang tuanya membawa Yesus untuk disunatkan di Yerusalem. Di sanalah Simeon bertemu dengan bayi Yesus, dan seketika itu juga tahulah dia bahwa bayi yang ditemuinya adalah Sang Mesias.
Seketika itu pula, Simeon paham bahwa ajal sebentar lagi akan menjemputnya. Saat itulah dia membuat Kidung Simeon. Kidung ini biasanya dilantunkan sebelum tidur sebagai doa malam, maupun digunakan sebagai doa penutup bagi Gereja Katolik Roma.
Sebelum menaikkan Kidung Simeon, biasanya diawali dengan Doa Bapa Kami dan diakhiri dengan Salam Maria. Sedangkan untuk Gereja Lutheran, Kidung Simeon banyak digunakan sebagai bagian dari pemberian komuni dan dilantunkan sebagai nyanyian.
Isi Doa Kidung Simeon
Doa Bapa Kami
Bapa kami yang ada di dalam surga
Dimuliakanlah nama-Mu
Datanglah kerajaanMu
Jadilah kehendak-Mu
Di atas bumi seperti di dalam surga
Berilah kami rejeki pada hari ini
Dan ampunilah kesalahan kami
Seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami
Dan janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan
Tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat
Amin
Kidung Simeon
Sekarang, Tuhan, perkenankanlah hamba-Mu berpulang
Dalam damai sejahtera menurut sabda-Mu
Sebab aku telah melihat keselamatan-Mu
Yang Kau Sediakan di hadapan segala bangsa
Cahaya untuk menerangi para bangsa
Dan kemuliaan bagi umat-Mu Israel
Kemuliaan…
Salam Maria
Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu
Terpujilah engkau di antara wanita dan terpujilah buah tubuh-Mu, Yesus
Santa Maria, bunda Allah
Doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan waktu kami mati
Amin.
Arti Kidung Simeon
Sebuah kidung yang indah, yang berisikan tentang kepasrahan hidup sepenuhnya kepada Allah. Simeon merasa bahwa kehidupannya sudah cukup dan dia yakin dirinya, bahkan setelah kematian, akan tetap berada di dalam perlindungan Bapa.
Keyakinannya ini ditambah lagi dengan perjumpaan dengan bayi Yesus, Sang Mesias yang Dijanjikan. Di masa sekarang, kidung ini juga mengajarkan cara untuk berserah penuh kepada Sang Pemilik hidup.
Ketika malam menjemput, kita tidak tahu apa yang akan terjadi esok hari. Maka dengan menaikkan doa ini, kita menyerahkan segala keputusan terbaik untuk terjadi di dalam hidup kita, sesuai dengan kehendak Allah.
Doa Kidung Simeon menjadi sebuah tanda pengertian bahwa hidup kita bukanlah milik kita sendiri. Segala yang ada pada diri kita merupakan pemberian dari Sang Pencipta, maka sudah sepatutnya kita melakukan bagian yang terbaik dan menyerahkan Tuhan untuk mengerjakan bagian-Nya.
Penundukan diri semacam ini juga yang disebut dengan pikul salib di dalam iman Katolik. Kesadaran penuh bahwa tidak ada yang lebih besar di alam semesta ini, selain Yesus Kristus sendiri.