Batiknews.com – Hari Pers Nasional, momen yang mengapresiasi peran pers dalam membangun masyarakat dan membentuk opini publik. Puisi ini menggambarkan kebesaran dan tantangan yang dihadapi oleh insan pers dalam menjalankan tugas mulianya. Lewat bait-bait yang penuh makna, kita menghormati perjuangan dan kontribusi pers dalam membentuk wacana dan mempertahankan kebenaran.
Dalam setiap bait puisi, kita menyusuri perjalanan pena yang menjadi pilar kebebasan dan kebenaran. Puisi ini merentangkan kata-kata sebagai bentuk penghargaan kepada wartawan yang menjadi pahlawan tanpa tanda jasa, menyuarakan kebenaran di tengah dinamika zaman. Lewat metafora yang indah, puisi ini menciptakan lukisan perjuangan pers, yang tak pernah lelah menggali fakta dan memancarkan kebenaran.
Bait-bait puisi ini adalah refleksi dari keteguhan pers dalam menghadapi gelombang informasi. Dari cerita gelap hingga sorotan terang, puisi ini menjadi titik fokus perayaan Hari Pers Nasional. Setiap kata dihiasi dengan makna, membentuk aliran perasaan yang menghargai keberanian pers dalam membentuk opini dan menyuarakan aspirasi masyarakat.
Puisi Peringatan Hari Pers Nasional Terbaik 2024

Hari Pers Nasional memicu inspirasi para penyair untuk merayakan peran pers dalam menyebarkan informasi dan memupuk kesadaran masyarakat. Puisi ini mencerminkan pentingnya kebebasan pers, tanggung jawab jurnalistik, dan kontribusi media dalam membentuk opini publik.
Melalui bahasa puitis, puisi Hari Pers Nasional mengajak pembaca merenung tentang kekuatan kata-kata yang mampu membentuk pandangan dan pemahaman bersama. Dalam setiap bait, media dianggap sebagai pilar demokrasi yang membawa cahaya kebenaran. Puisi ini menjadi penghargaan atas dedikasi para insan pers dalam memberikan informasi yang berkualitas dan berintegritas.
Judul Puisi : Hari Pers Nasional
Jadikan segenap karya dan kiprah
Di media massa, cetak, dan elektronik
Tetap jernih, cantik, dan simpatik
Menyuguhkan hal-hal yang indah mulia
Seraya membangkitkan gairah
Sarat informasi yang akurat terpercaya
Mengandung edukasi yang berbobot penuh makna
Menghadirkan rekreasi yang sehat segar dan cerah ceria
Tetaplah punya misi mendidik meraih kedewasaan
Mencerdaskan dan mengarifkan
Memperluas barisan pikir panjang
Pantang menyebarkan tayangan sensasional
Tetaplah menjadi media yang berharga, jangan jadi gombal
Bebas merdeka penuh daya cipta
Menaati rambu-rambu etika
Mengawal peradaban dan budaya bermartabat
menyetiai hati nurani dan akal sehat
Judul Puisi : Demokrasi Media Massa
Tak semua wartawan profesional
diantaranya ada yang suka nakal
Fakta suka di putar
Demi dapatkan beribu keuntungan
wartawan tanpa surat kabar
Keberadaannya sudah dimana saja
Berkedok macam wartawan benar
pada akhirnya hanya untuk kesenangan
demokrasi media massa
bukan hanya penyampai informasi belaka
tetapi juga pengontrol semua lembaga
Punya kode etik yang mesti dijaga
Judul Puisi : Si Pemburu Berita
Di tengah panas terik matahari
Wartawan terus berjuang
Berjuang tak ada lelah
Badan legam tak dipandang
Kemana pun pergi
kamera setia menemaninya
tak lupa juga pena
Wartawan terus memburu berita
Gaji bukan persoalan
Asal kan itu halal
Bagi wartawan yang senang
Ketika tulisannya jadi pembicaraan
Judul Puisi : Biru Lautan Tak Seindah Perlakuanmu
Biru lautan tak seindah perlakuanmu
Keras ombak lambang kesombonganmu.
otak dan perilakumu tak lagi saling menyatu
Tak tau mana lawan dan mana kawan
Kau perisai bagi rakyatmu
kau juga duri dalam dagingku.
Mana janji tulus setiamu
yang tak kunjung kau tepati
Bila rakyat berani berkeluh
Itu artinya sudah gawat
bila omongan penguasa tak lagi dapat dipercaya
maka kebenaran pasti terancam
Judul Puisi : Apa Kabar Kekerasan Pers?
Oleh: Adam Makatita
Sudahkah keadilan itu bertatih;
Berjalan sesuai?
Ibarat bumi yang berputar tanpa letih
Pada poros yang tertata rapi.
Apa kabar kekerasan pers?
Sudah kah adil menyelesaikan
Bekas tamparan
Atau masih berlari keluar dari jalanan?
Aku masih menunggu kabar baikmu
Entah tentang keburukan-keburukanmu
Yang terpojokkan
Atau bahkan terpinggirkan pada emperan
Aku masih menanti senyum setiap hari
Senyummu terkungkung dibalik jeruji
Biar kau rasa bagaimana kebebasan dikunci
Biar menjadikan kau bijak tiada maki
Apa kabar kekerasan pers?
Masihkah kau dilarut-larutkan
Dalam tanya tak henti-henti
Ataukah kau telah dilemparkan bebas?
Sementara aku tak ingin
Ada tawa menggelegar
dari mulut busuk
Kaum munafik politik
Apa kabar kekerasan pers?
Sudahkah kemurnian kebebasan dikembalikan,
Ataukah masih ada senyum itu ditangani
Dalam perkara-perkara kata “Intimidasi”?
Kau harus tahu
Setiap Jarum jam berjalan
Melewati jantung waktu
Aku masih menanti kabar terbaik kebebasan
Jangan cipta gerutuku
Aku tak mau mereka bebas setelah
Kebebasanmu direnggut
Tuan-tuan politik tidak terdidik
Lantas, Baikkah kabarmu?
Aku ingin kebebasan-mu (pers) kembali
Seperti sedia kala
Dalam barisan jalan-jalan idealisme.
Ambon, 06 April 2018
Puisi selanjutnya adalah hasil karya dari Amir Machmud NS, S.H., M.H., yang menjabat sebagai Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Tengah. Beliau tidak hanya memiliki keahlian dalam dunia jurnalistik, tetapi juga ternyata seorang sastrawan dan penyair.
Oleh karena itu, tak heran jika tulisan-tulisannya, baik dalam bentuk kolom atau esai, memiliki ciri khas kesusastraan yang kental. Bahkan, walaupun membahas topik olahraga, terutama sepak bola, atau bahkan masalah politik, bahasa yang digunakan tetap terasa indah dan berseni. Mari kita simak dengan seksama puisi karya Amir Machmud NS, S.H., M.H.
SAJAK WARTAWAN (1)
kau bawa ke mana naskah itu
untuk kautiup dan kautebar
kepada siapa kau berkabar
mensyiar atau menguar
menerang atau merembang
di tengah kepung kepentingan
yang saling bersandar punggung
dengan arah berseberangan
kau tuliskah naskah
tanpa bersandar pilihan?
keputusan hati
untuk apa
untuk siapa
agar bagaimana
kaupilih tema
dan, layar kaubentang ke mana
semua menuntut paripurna
idealisme di ruang hampa
sebagian meminta kau jadi mereka
sebagian menarikmu ke sana
kau tahu pula
tak ada kepentingan yang rela
kau bermukim
di habitat bening semesta
tak ada kekuatan yang legawa
kau beri ruang yang sama
sekuat apa berdiri
di tonggak nurani
padahal kau bukan pertapa
padahal bukan pula si zuhud
yang memunggungi dunia
mengarungi keyakinan
menempuh idealisme
dengan hati liat
dengan jaminan hidup kuat
agar orang tak gampang melaknat
bijakkah meminta
wartawan istikamah mematung memperjuangkan kebenaran
jadi gantungan semua orang
dengan kondisi meriang
dengan masa depan mengambang.
SAJAK WARTAWAN (2)
kau punya semesta
yang tak mereka miliki
biarkan merasa
jadi panglima opini
dengan status-status seram
bombardir cuitan yang berlagak
instastory mau menang sendiri
lalu dunia mereka kuasai
salah-benar urusan nanti
jangan galau kau pilih profesi ini
yang seharusnya punya jalan sendiri
yang tak seharusnya kau lemahkan
dengan ketidakyakinan
hanya karena kisah rumah-rumah
yang tumbang satu per satu
dari sandyakala menjadi nyata
menyodorkan rembang masa
era yang bergerak
siapa mampu membendung arusnya?
masih luaskah semesta kita
menyulam konfidensi dan keteguhan
menjadi pilar kebangsaan
kita dipaksa bersikutat
dengan hari-hari muram
orang-orang memandang
tanpa kepercayaan
ada yang menanggalkan harga diri
memilih berkubu-kubu
atas nama afiliasi
membangun logika dan artikulasi
menyingkiri kebenaran asasi.
SAJAK WARTAWAN (3)
hari ini kita mahkotai profesi
yang telah memberi harga diri
dan, mereka yang membawa hati bening
hadir memberkati
dengan respeksi
puja-puji dan tepuk tangan
terkadang malah melilit perih
di sudut-sudut galau
di relung-relung risau
kita menjaganya
semesta hati semesta rasa
selapang jiwa menuang kebenaran
kita mengawalnya
sehiruk pikuk itu berebut ruang
akankah kita membiarkannya?
masih ada tarikan napas peduli
dan kita merasa punya sisa ruang
menindih suara-suara
menepikan sayat resah
untuk menegaskan
dengan suara bimbang
ini bukan profesi sembarangan
tepuk tangan dan puja-puji
hari ini
meraung pedih
bagai ayat-ayat yang menyayat
di sabana sunyi…
Semarang, 9 Februari 2024
Baca juga :
Puisi Renungan Diri Menyentuh Hati
Puisi Untuk Teman Terbaru
Contoh Puisi Untuk Ibu Penuh Kasih Sayang
Seiring terhamparnya kata-kata ini, marilah kita bersama merayakan Hari Pers Nasional sebagai bentuk apresiasi terhadap peran luar biasa pers dalam membentuk masyarakat yang kritis dan berkeadilan.
Puisi ini bukan hanya ungkapan syukur, tetapi juga harapan agar pers terus menjadi penjaga kebenaran dan kesejahteraan sosial. Semoga puisi ini menjadi catatan kecil yang merayakan keberanian dan integritas pers dalam membentuk peradaban. Selamat Hari Pers Nasional!