Batiknews.com – Kapel Sistina yang berada di Vatikan Italia merupakan salah satu kapel yang menjadi tempat wisata dengan daya tarik tinggi. Orang dari segala penjuru datang untuk mempelajari 7 fakta tentang Kapel Sistina Vatikan yang dirancang oleh Giovannino de Dolci dan Baccio Pontelli tersebut.
Daya tarik kapel ini bukan hanya karena arsitekturnya, melainkan juga karena sejarah dan juga keindahannya. Bahkan banyak orang yang menyandingkan kemegahan kapel ini dengan bait Allah yang dibangun Salomo pada masanya.
Kapel ini selalu masuk ke dalam daftar kunjungan ketika berada di Museum Vatikan. Selain berfungsi sebagai kapel atau rumah doa, tempat ini juga dipergunakan sebagai museum benda kuno bersejarah dan juga museum seni.
7 Fakta Tentang Kapel Sistina Vatikan
Bangunan yang didirikan pada tahun 1470-an memang memiliki keunikan tersendiri. Setiap orang yang pernah mengunjungi bangunan yang berdiri ketika Paus Sixtus IV menjabat ini, pasti memiliki kesan yang tak akan pernah dilupakan tentang tempat ini. Berikut batiknews sajikan beberapa fakta tentang kapel sistina vatika dan penjelasannya:
1. Tempat Pentahbisan Paus Baru
Penamaan Kapel Sistina memang mengambil dari nama Paus Sixtus IV. Selain digunakan sebagai tempat wisata, bangunan ini juga merupakan tempat berlangsungnya banyak peristiwa keagamaan yang penting.
Fungsi Kapel Sistina sebagai tempat penting dalam agama Katolik dimulai pada tahun 1492. Pada masa itu, para kardinal mengadakan pertemuan yang bertujuan untuk menentukan paus yang baru. Hal ini membuat Kapel Sistina menjadi tuan rumah bagi begitu banyak konklaf kepausan.
Proses penyiaran hasil konklaf pun cukup unik. Ketika nama paus baru sudah mendapat aklamasi, maka pada cerobong asap di atas kapel akan keluar asap putih. Sedangkan ketika belum ada kandidat yang lolos dalam pemilihan, maka cerobong asap akan mengepulkan asap hitam.
2. Lukisan di Dinding
Daya tarik dari kapel ini adalah lukisan-lukisan indah karya pelukis kenamaan pada abad ke-15 di dinding dan juga langit-langit kapel. Nama-nama seperti Pietro Perugino, Sandro Botticelli, dan Domenico Ghirlandaio adalah para seniman yang mengerjakan lukisan dinding tersebut. Semua lukisan itu selesai pada tahun 1482.
Selain ketiga pelukis tersebut, ada pula pelukis legenda yaitu Michelangelo yang karyanya begitu masyhur hingga saat ini. Namun, pada awalnya Michaelangelo, yang seorang pemahat, tidak bersedia untuk melukis di dinding kapel. Selain karena dia merasa bukan pelukis, dia juga sedang mengerjakan makam marmer Paus Julius II.
Saat diminta untuk membuat lukisan tersebut, Michelangelo masih berusia 33 tahun, yaitu pada tahun 1508. Namun, walaupun keberatan, Michelangelo pun akhirnya memutuskan untuk menerima tawaran tersebut. Dia memerlukan waktu selama empat tahun untuk bisa menyelesaikan lukisannya.
3. Posisi Melukis Michelangelo
Banyak orang beranggapan bahwa untuk bisa menghasilkan lukisan yang sempurna seperti yang ada di langit-langit kapel, Michelangelo pasti melakukannya dengan posisi berbaring. Namun dari beberapa bukti yang ditemukan, termasuk penyangga kayu yang digunakan untuk melukis, bisa dipastikan bahwa posisi Michelangelo ketika melukis adalah berdiri.
Bisa dibayangkan betapa sulitnya melukis langit-langit melengkung, namun tetap menghasilkan lukisan yang membuat kagum seluruh dunia. Hal ini diperkuat pula dengan pernyataan asisten Michelangelo kala itu.
Michelangelo sendiri merancang sistem platform yang unik, yang dipasang ke dinding dengan tanda kurung. Inspirasi yang didapat Michelangelo dalam menuangkan lukisannya menjadi inspirasi dalam film “The Agony and the Ecstasy” yang tayang pada tahun 1965.
Keindahan lukisan Michelangelo juga bisa dilihat di belakang altar yang berbentuk mural besar. Lukisan Penghakiman Terakhir ini sangat mengagumkan. Bahkan kabarnya Paus Paulus III sempat terduduk dan kemudian berlutut berdoa sambil menghadap lukisan tersebut.
Baca juga: 8 Lambang Roh Kudus
4. Puisi Michelangelo
Tidak banyak yang tahu bahwa selain menghasilkan lukisan, Michelangelo juga pernah menghasilkan puisi yang terinspirasi dari kegiatannya selama melukis. Puisi ini dikirimkan kepada Giovanni da Pistoia yang tidak lain adalah temannya. Penulisan puisi tersebut tercatat dilakukan pada tahun 1509.
Pada puisinya, Michelangelo mencurahkan beban hati dan juga fisiknya selama mengerjakan proyek tersebut. Berkali-kali dia menggambarkan kondisi tubuhnya yang seperti tersiksa karena harus berdiri dan mendongak guna menyelesaikan lukisannya.
Bahkan di salah satu bait puisinya, Michelangelo menuliskan bahwa perutnya sampai berdesakan dan hampir pindah ke dagunya. Dia juga menceritakan tulang punggungnya yang terasa seperti kusut dan terlipat selama mengerjakan lukisan yang awalnya memang tidak disukainya tersebut.
Michelangelo juga sempat mengungkapkan penyesalan karena sudah menerima tawaran sebagai pelukis. Dia menyadari bahwa bakatnya bukan di situ. Dia lebih nyaman menjadi seorang pematung dibandingkan menjadi seorang pelukis.
5. Seukuran Bait Salomo
Sebagai sebuah kapel yang diperuntukkan sebagai rumah bagi kegiatan kepausan serta ritual keagamaan umat Katolik sedunia, sudah barang tentu luas kapel ini sangat luar biasa. Bangunan ini juga sangat besar karena mempunyai 3 lantai.
Pada bagian paling bawah, terdapat ruang-ruang bawah tanah yang menopang lantai dasar yang memiliki ukuran sangat luas. Lantai dasar ini memiliki bentuk setengah lingkaran, kemudian pada lantai di atasnya merupakan bangunan utama yang adalah ruang kapel itu sendiri.
Ukuran kapel ini juga tidak kalah luas, tercatat kapel utama ini memiliki panjang 40,9 meter dengan lebar 13,4 meter. Jika dikonversikan ke dalam ukuran kaki, maka panjang kapel adalah 123 kaki dan lebarnya adalah 44 kaki. Ukuran ini sama dengan yang digunakan untuk bangunan bait Allah versi Salomo.
6. Lukisan Penciptaan Adam dan Otak Manusia
Salah satu panel lukisan yang terkenal di kapel ini memiliki judul Penciptaan Adam, sebab dalam lukisan tersebut terlihat tokoh Adam dan Tuhan saling mengulurkan tangan dan jari mereka pun hampir bersentuhan.
Namun, ada beberapa anggapan yang juga melihat gambaran ini sebagai bentuk lukisan otak manusia. Hipotesis ini pertama kali dikeluarkan oleh seorang dokter yang bernama Frank Lynn Meshberger. Menurut Meshberger, maksud Michelangelo melukis hal tersebut adalah untuk membangkitkan kecerdasan yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia pertama.
7. Aura Kapel yang Indah
Walaupun dari luar kapel ini tidak memiliki keistimewaan, namun aura magisnya tetap sangat terasa dan sangat kental. Siapapun yang datang pasti akan mengaminkan hal yang sama seperti yang dirasakan oleh Gianni Crea, sang penjaga kunci kapel.
Fasad luar kapel pun sama saja seperti bangunan besar lain di Vatikan, namun aura yang memancarkan kemuliaan Tuhan terasa sekali di dalam bangunan ini. Suasana ketika datang di pagi hari dan malam hari akan terasa sangat berbeda, namun tetap dengan nuansa religius yang sama.
Keberadaan fakta-fakta tentang Kapel Sistina Vatikan membuat kita lebih menghargai kapel ini bukan hanya sebagai tempat untuk berfoto maupun menghabiskan liburan belaka. Banyak aspek teologis dan juga sosiologis yang bisa diambil dari setiap sudutnya. Kesederhanaan dari luar dan kemegahan dari dalam juga sangat filosofis.
Hal ini mengingatkan kita bahwa tidak selamanya yang tampak di luar selalu menggambarkan hal yang terjadi di dalam. Segala sesuatunya bisa saja berbeda dan untuk itulah kita perlu mengenal lebih dalam sebelum mengambil kesimpulan.