Pengertian Hari Sabat & Maknanya dalam Gereja Katolik

Pengertian Hari Sabat – Umat Kristen Katolik mempercayai hari Sabat sebagai hari yang sudah dipilih Tuhan atas hari lainnya. Hari sabat menurut agama katolik sebenarnya juga tidak berbeda dengan pengertian yang dipahami sebagian besar umat Kristen.

Hanya saja, ada beberapa gereja advent yang memiliki pandangan berbeda tentang penetapan hari Sabat. Mereka beranggapan bahwa penetapan Sabat adalah Sabtu, hal ini merujuk pada fakta yang dibeberkan di dalam perjanjian Lama.

Sedangkan umat Kristen Katolik merujuk pada fakta yang diberikan dalam Perjanjian Baru yang merujuk bahwa hari Sabat yang dimaksud adalah hari Minggu. Namun, di atas semuanya itu, tetap yang harus digaris bawahi bahwa hari Sabat merupakan hari yang sudah dipersiapkan dan kudus di hadapan Allah.

Baca juga: Pengertian Komuni Pertama

Makna Hari Sabat bagi Gereja Katolik

Berikut akan dijelaskan penjelasan tentang makna Sabat bagi Gereja Katolik beserta dengan ayat yang diambil dari dalam Alkitab. Dengan memahami makna dari hari Sabat, maka setiap umat diharapkan untuk memperlakukan hari Sabat sebagai hari khusus yang spesial untuk kemuliaan Tuhan.

1. Hari yang Dikuduskan

Perintah ini sesuai dengan yang tertuang di dalam Alkitab Keluaran 20 : 8 – 11 yang berbunyi:

“Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat: enam hari lamanya engkau akan bekerja dan melakukan segala pekerjaanmu, tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan, engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu. Sebab enam hari lamanya TUHAN menjadikan langit dan bumi, laut dan segala isinya, dan Ia berhenti pada hari ketujuh; itulah sebabnya TUHAN memberkati hari Sabat dan menguduskannya”.

Dalam ayat ini sudah sangat jelas dikatakan bahwa Tuhan sendirilah yang memilih hari Sabat sebagai hari yang kudus. Pada hari yang ketujuh ini, Tuhan Allah memberkati segala ciptaan-Nya dan mengharuskan mereka untuk berbakti dan beribadah kepada Tuhan sebagai bukti pengudusan hari Sabat.

Dalam iman Katolik, yang merunut Perjanjian Baru, maka hari Minggu merupakan perwujudan hari Sabat. Pasalnya, telah mengalami pelimpahan hak istimewa sejak kematian Kristus dan kebagkitan-Nya di atas kayu salib.

2. Hari yang Ditetapkan dan Berbeda dengan Perintah Lain

Dalam Sepuluh Perintah Tuhan, hanya ada satu perintah yang berisikan tentang pengudusan hari Sabat yang berupa ritual. Perintah ini jelas berbeda dari kesembilan perintah lain yang lebih mewakili perihal hukum alam, yaitu hukum yang sudah menjadi naluri alami dalam diri manusia, hewan, dan semesta.

Hukum alam sendiri tercipta bersamaan dengan penciptaan, namun hukum ritual yang menguduskan hari Sabat hanya muncul setelah kitab Keluaran, yaitu penanda ketika umat Israel berhasil dibawa keluar dari tanah Mesir. Hal inilah yang menjadikan penunjukan hari Sabat sebagai sesuatu yang istimewa.

Para rasul dari gereja mula-mula pun juga mengkhususkan hari Sabat yang tiba di hari Minggu. Fakta ini bisa dilihat di dalam Kisah Para Rasul 20:7 yang berbunyi “Pada hari pertama dalam minggu itu, ketika kami berkumpul untuk memecah-mecahkan roti, Paulus berbicara dengan saudara-saudara di situ, karena ia bermaksud untuk berangkat pada keesokan harinya. Pembicaraan itu berlangsung sampai tengah malam”.

Dari ayat ini bisa kita simpulkan bahwa pada gereja Perjanjian Baru, hari Sabat sudah ditetapkan di hari Minggu sebagai bukti peringatan kebangkitan Yesus. Selain itu, ayat lain yang juga menyebutkan tentang penetapan hari Sabat ke dalam hari Minggu juga tertuang di dalam kitab 1 Korintus 16:1-2.

Dalam ayat tersebut, Santo Paulus pun bersabda tentang peringatan hari Sabat yang harus dilakukan di hari Minggu sejak kematian Kristus. Hal ini akan terus berlangsung demikian sampai Yesus datang kali yang kedua nanti.

Baca juga: Cara Menjadi Lektor Gereja Katolik

3. Peringatan Kebangkitan Yesus

Seperti yang kita tahu, Tuhan Yesus disalibkan dan mati pada hari Jum’at. maka pada hari itulah kita mengenal hari Jum’at Agung. Kemudian, Dia bangkit pada hari yang ketiga, yaitu pada hari Minggu. Hari inilah yang menandai kebebasan umat manusia dari dosa dan jaminan keselamatan kekal.

Maka dari itulah, setelah peristiwa ini, yang dikenal dengan Perjanjian Baru, ibadah ditetapkan di dalam hari Minggu.

St. Ignatius dari Antiokhia, salah satu dari Bapa terkuno, juga menulis perihal hari Sabat di dalam bukunya Epistle to the Magnesians atau yang diterjemahkan sebagai Surat kepada Jemaat di Magnesia. Dalam no. 9, 110 M kita dapat melihat pernyataan sebagai berikut:

“Maka, jika mereka yang berjalan di dalam adat istiadat kuno datang ke dalam suatu harapan baru, tidak lagi hidup untuk Sabat, melainkan untuk Harinya Tuhan, hari di mana hidup kita pula bertumbuh oleh-Nya dan oleh kematian-Nya – walaupun beberapa orang menyangkal-Nya – dan oleh misteri ini kita menerima iman, dan oleh karena alasan ini juga kita menderita…”

4. Hari untuk Istirahat

Seperti yang sudah kita baca pada Keluaran 20 : 8 – 11 di atas, hari Sabat juga diartikan sebagai hari istirahat. Hari Sabat, dalam bahasa aslinya, juga berarti sebagai pemberhentian. Hal ini bukan hanya sebatas pada pekerjaan fisik saja, tetapi dari semua hal yang menjauhkan diri dari Kristus.

Tuhan sudah memberikan enam hari kepada kita untuk bekerja, sama seperti Dia yang juga bekerja selama itu untuk menciptakan seluruh isi dunia. Maka Tuhan pun menetapkan satu hari untuk kita bisa menenangkan diri, beristirahat dari segala aktivitas.

Ayat lain yang menguatkan tentang hal ini tertuang di dalam Kejadian 1 : 1 – 2 yang berbunyi, “Demikianlah diselesaikan langit dan bumi dan segala isinya. Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu”.

Baca juga: Persyaratan Menjadi Misdinar

5. Hari Pembaharuan dan Kelahiran Kembali

Seperti yang kita ketahui bahwa manusia sudah jatuh ke dalam dosa dan mustahil untuk bisa kembali menjadi karib dengan Kristus yang adalah kudus. Maka dari itulah, sejak kejatuhan Adam, manusia merindukan karya penebusan dosa dan juga anugerah keselamatan yang kekal.

Setelah kedatangan Yesus, maka hari Sabat menjadi pengingat bahwa kita adalah umat yang sudah ditebus. Tidak seharusnya sebagai umat yang sudah ditebus kita berlaku sama seperti ketika belum diselamatkan. Kita harus menjadi ciptaan baru jika ingin masuk ke dalam surga yang kekal.

Menerima Kristus sama dengan menerima pembaharuan. Karya penebusan dalam Kristus membuat kita sebagai ciptaan baru yang sudah meninggalkan hidup yang lama, seperti yang tertuang di dalam 1 Korintus 1 : 17.

Baca juga: Perbedaan Bruder dan Frater


Pengertian hari Sabat dalam gereja Katolik bukanlah hanya simbol belaka. Pemaknaan Sabat menjadi begitu dalam sebab dikaitkan dengan kebangkitan Yesus Kristus. Sabat adalah anugerah. Sabat merupakan hari yang dinantikan setelah sekian lama lelah dengan hal duniawi.

Ibadah yang dilakukan di hari Sabat akan membuat kita menjadi pribadi yang siap untuk diperbarui dari hari ke hari. Hanya saja, dalam menjalankan ibadah, kita harus mau membuka hati dan mau senantiasa diajar oleh Roh Kudus. 

Heru Siswanto

Heru Siswanto adalah orang yang sangat menyukai hal-hal yang berkaitan dengan agama terutama Alkitab, renungan, doa, dan lagu rohani.