Perbedaan Frater dan Bruder – Banyak orang masih belum mengetahui perbedaan bruder dan frater dalam Katolik. Bahkan umat Katolik sendiri yang sering mendengar dan menyapa para bruder dan frater pun belum tentu dapat membedakan keduanya, terlebih mereka juga kerap menggunakan jubah seperti imam saat misa.
Banyak juga yang mempertanyakan perihal kelompok khusus yang menggolongkan kedua panggilan ini. Semua pertanyaan itu timbul karena ada banyak persamaan antara bruder, frater, dan juga imam atau pastor tetapi mereka pada dasarnya adalah berbeda.
Maka, untuk bisa mengetahui perbedaan tersebut perlu pendalaman khusus dan pengetahuan tentang latar belakang, etimologi hingga tarekat. Hal ini bertujuan agar setiap umat Katolik mengerti perbedaan tersebut dan bisa lebih memahami ketika mereka mendapatkan panggilan untuk menjadi salah satu dari mereka.
Perbedaan Frater dan Bruder di Katolik
Kita akan melihat penjelasan mengenai perbedaan antara bruder dan frater, baik dari sisi pengertian menurut etimologi, tugas dan tanggung jawab serta tarekat yang menjadi naungan mereka. Hal ini dapat membuat setiap umat bisa memahami setiap bentuk pelayanan di dalam gereja.
Pengertian Bruder
Asal kata bruder adalah dari kata Broeder yang diambil dari bahasa Belanda. Arti kata ini sendiri jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah saudara laki-laki. Bruder bukanlah sebuah kepangkatan maupun kasta dalam tataran pelayanan di ajaran Katolik, melainkan sebuah penyebutan untuk seorang rohaniawan awam.
Disebut sebagai rohaniawan awam, sebab bruder tidak ditahbiskan seperti imam. Bruder adalah orang biasa yang membaktikan dirinya dalam kaul kemiskinan, yaitu suatu komitmen untuk hidup sederhana dan tidak lagi terkekang dalam nafsu duniawi.
Untuk bisa menjadi seorang bruder, seorang awam juga bisa mengikuti sekolah teologi. Walaupun nantinya tidak bergelar imam, karena tidak mengalami pentahbisan, tetapi kedalaman ilmu dan juga rasa bakti terhadap Tuhan dan sesama adalah sama.
Seorang bruder tidak melayani sepenuhnya di dalam kebaktian misa, ataupun hanya berfokus pada pelayanan pekerjaan Tuhan saja. Mereka juga bisa masuk dalam komunitas dan bekerja seperti warga sipil lainnya.
Jadi, jangan kaget jika bertemu dengan seorang bruder yang juga menjadi kepala sekolah, nelayan, petani, dan lain sebagainya.
Walaupun demikian, ada banyak orang yang sering beranggapan bahwa bruder merupakan panggilan iman kelas dua. Hal ini dikarenakan banyak orang yang lebih menghargai posisi imam yang sudah ditahbiskan, sedangkan bruder yang notabene berada di tengah dianggap belum memiliki posisi yang jelas.
Namun demikian, hal tersebut tidak menghalangi banyak orang yang ingin tetap menjadi bruder sebab merupakan pilihan dan juga panggilan hati karena tuntunan Roh Kudus. Gereja pun juga berusaha untuk bisa mengakomodir para bruder, suster, frater dan semua pelayan gereja agar mendapatkan perlakuan yang sama.
Baca juga: 10 Orang yang Pernah Mengalami Stigmata
Kongregasi yang Menaungi Para Bruder
Ada banyak kongregasi/tarekat/ordo yang ada di dunia ini, yang berkaitan dengan bruder. Namun, di Indonesia sendiri, kongregasi yang menaungi para bruder bisa dikerucutkan menjadi seperti di bawah ini :
- Kongregasi Bruder Fratrum Immaculatae Conceptionis/FIC
- Kongregasi Bruder Fratrum Caritatis/Bruder Karitas/FC
- Kongregasi Bruder Budi Mulia/BM
- Kongregasi Bruder Maria Tak Bernoda/MTB
- Kongregasi Bruder CSA
Pengertian Frater
Kata frater sendiri diambil dari bahasa Latin yang artinya juga sama seperti bruder, yaitu saudara laki-laki. Istilah ini juga sering digunakan di dalam kitab Perjanjian Baru sebagai istilah penyebutan untuk umat Kristen pada masa itu.
Kata yang maknanya sepadan dengan frater adalah fray yang berasal dari bahasa Spanyol. Untuk penggunaan kata fray adalah untuk gelar, dan biasanya bisa ditemukan di daerah yang dulunya adalah jajahan Spanyol maupun di wilayah Amerika Serikat bagian barat daya.
Pada abad kedua belas hingga ketiga belas, frater sendiri adalah panggilan untuk jemaat tarekat fakir Kristen. Di Indonesia sendiri, penyebutan frater biasanya dilekatkan kepada mereka yang sedang menjalani program pendidikan untuk menjadi seorang imam yang ditahbiskan.
Baca juga: Apa itu Misdinar
Tarekat Besar yang Menaungi Frater
1. Dominikan
Tarekat ini berdiri sekitar tahun 1216 yang dipimpin oleh Santo Dominikus. Pendirian tarekat ini sudah memperoleh izin dari Tahta Suci Paus Honorius III yang kemudian menjadikan tarekat ini ditahbiskan sebagai Tarekat Pewarta atau Ordo Praedicatorum pada tahun 1216.
Penetapan menjadi Tarekat Pewarta sendiri berlandaskan pada Regula Santo Agustinus. Frater yang tergabung di dalam tarekat Dominikan sering dijuluki sebagai Frater Pengkhotbah maupun Frater Hitam.
Hal ini dikarenakan mereka sering menggunakan cappa atau mantel berwarna hitam di atas habit putih yang mereka pakai. Pada tahun 1221, tarekat ini berubah menjadi tarekat fakir.
2. Fransiskan
Para frater yang berada di dalam naungan tarekat yang berdiri pada tahun 1209 ini sering dijuluki dengan Saudara Hina Dina. Pendiri dari tarekat ini adalah Santo Fransiskus dari Asisi. Pendirian tarekat ini sudah berizin dan ditandatangani langsung oleh Tahta Suci Paus Innosensius III.
Sedangkan pengukuhannya sendiri terjadi pada tahun 1223 yang diberi izin langsung oleh Tahta Suci Paus Honorius III. Tarekat ini sudah berkembang dan terbagi menjadi tiga bagian yang tiap cabangnya bisa dikenali dari jubah yang mereka kenakan.
Untuk Tarekat Saudara Dina biasanya menggunakan jubah berwarna coklat, sedangkan untuk Tarekat Saudara Dina Kapusin juga memakai jubah berwarna coklat hanya saja tudung mereka berujung lancip. Untuk tarekat ketiga adalah Tarekat Saudara Dina Konventual yang menggunakan jubah berwarna abu-abu maupun hitam.
Baca juga: 7 Arti Huruf O Pada Lagu Gereja
3. Augustinian
Julukan yang sering diberikan kepada Tarekat yang didirikan oleh Paus Innosensius IV pada tahun 1244 ini adalah Petapa Santo Agustinus maupun Frater Agustinus.
Pada awal pembentukannya, tarekat ini hanyalah sebuah serikat kecil, namun pada tahun 1256, tarekat ini berkembang menjadi serikat besar. Tarekat ini menggunakan regula yang dilandasi oleh karya Santo Agustinus dan Hippo.
Pada awal terbentuknya, tarekat ini merupakan kesatuan dari berbagai paguyuban pertapa yang kemudian dibesarkan oleh Paus Alexander IV, dengan penggabungan paguyuban lain di luar tarekat fakir sehingga menjadikannya semakin besar.
4. Karmelit
Julukan yang kerap diterima para frater dari tarekat Karmelit yang berdiri pada tahun 1155 adalah Frater Putih. Penyebab penyebutan ini adalah penggunaan jubah berwarna putih yang dikenakan hingga menutupi habit coklat yang mereka pakai.
Pendirian tarekat ini disetujui oleh Tahta Suci Paus Honorius III pada tahun 1226, kemudian pada tahun 1247 diteguhkan kembali oleh Paus Innosensius IV.
Pada awal pendiriannya, tarekat ini merupakan sebuah tarekat kontemplatif murni, namun kemudian pada tahun 1245 berkembang menjadi tarekat fakir. Tarekat karmelit terbagi menjadi dua golongan yaitu golongan Karmelit Tak Berkasut dan golongan penganut tatanan kuno.
Baca juga: 6 Arti Mencium Cincin Uskup Saat Bersalaman
Menjadi seorang bruder maupun frater sama-sama memiliki tanggung jawab moral yang berat. Keduanya juga mengemban tugas suci penyebaran injil dan perluasan kerajaan Allah di bumi. Sehingga seharusnya perbedaan bruder dan frater dalam Katolik tidak menimbulkan celah perpecahan.
Dalam setiap kaul yang menjadi komitmen bruder maupun frater, terdapat penundukan diri dan juga kerendahan hati untuk mengabdikan diri sepenuhnya kepada Tuhan dan juga sesama. Kiranya Tuhan sendiri yang memberikan perlindungan dan juga kekuatan kepada para bruder dan frater.