6 Arti Mencium Cincin Uskup Saat Bersalaman

Beberapa waktu yang lalu beredar kabar viral tentang penolakan Paus Fransiskus, ketika umat ingin mencium cincin di tangannya yang sempat menghebohkan umat Katolik dunia. Sebenarnya apa arti mencium cincin uskup saat bersalaman?

Bagi sebagian orang yang tidak memahaminya, tradisi yang sudah berjalan ratusan tahun lamanya ini seakan menjadikan paus sebagai seseorang yang harus disembah, hingga semua orang yang datang harus mencium tangannya. Padahal makna dari tradisi ini lebih dalam dari itu.

Maka dari itulah, kabar Paus Fransiskus yang menolak dicium tangannya dan kabar bahwa beliau akan menyudahi tradisi ini menjadi sorotan banyak pihak. Walaupun sebenarnya, hal yang terjadi hanyalah alasan kebersihan dan tidak ada keinginan untuk mengubah aturan yang sudah lama berlaku.

Arti Mencium Cincin Uskup Saat Bersalaman

Bertemu dengan paus maupun uskup adalah sebuah anugerah, sebab Paus bukan orang sembarangan yang bisa kapan saja kita jumpai, terlebih ketika bisa dekat dan mencium tangannya. Maka, meskipun bukan tradisi, semestinya mencium tangan maupun cincin Paus adalah sebuah dorongan yang sangat alami.

1. Pelestarian Terhadap Tradisi

Gereja Katolik dan tradisi merupakan dua hal yang sangat erat kaitannya, bahkan seakan tidak bisa dipisahkan. Tradisi ini diturunkan dari zaman kuno dan masih terus eksis hingga zaman modern seperti sekarang ini, salah satunya adalah mencium cincin uskup.

Tidak ada penanda waktu yang mutlak tentang awal mula semua tradisi ini dilakukan. Namun, menurut William V. Rauscher, praktek ini sudah mulai dilakukan sejak 610 M. Tentunya ini adalah sebuah praktek kuno yang sangat lestari.

Maka tidak heran jika sampai sekarang praktek ini sudah sangat lazim dilakukan dan menjadi janggal ketika banyak orang mempertanyakannya. Sebab prosesi ini sudah menjadi kebiasaan yang turun temurun.

Jadi, ini bukan upaya pengkultusan uskup, melainkan untuk merayakan tradisi. Selama praktek ini tidak melanggar Firman Tuhan, maka tentu saja sah dilakukan.

2. Meterai Dokumen

Setiap uskup dan paus pasti memiliki cincin di jari manis mereka. Namun, warna dari batu permata yang menghiasi cincin tersebut berbeda antara milik paus dan uskup. Cincin ini merupakan tanda keterikatan uskup dan paus terhadap gereja Katolik dan juga tanda kewenangan mereka, seperti ketika zaman raja-raja bangsa Yahudi di masa lalu.

Selain itu, fungsi cincin ini pada zaman dulu adalah sebagai cap untuk dokumen penting maupun peraturan tertulis. Cincin ini akan melekatkan amplop maupun dokumen lain dengan lilin panas.

Hal ini menggambarkan bahwa cincin tersebut juga merupakan lambang pengikat dan pemersatu. Maka ketika umat mencium cincin uskup, hal itu dimaksudkan bahwa umat dengan kesadaran penuh mau melekatkan dirinya kepada gereja dan juga iman kekristenan mereka.

3. Pengampunan Dosa

Setiap cincin yang dikenakan oleh para uskup dan paus sudah lebih dulu diberkati. Dalam cincin ini juga terdapat kekuatan pengampunan dosa karena melekatnya rahmat indulgensi. Maka ketika seorang umat mencium cincin ini, mereka dirahmati dan diampuni dosanya.

Proses mencium cincin ini juga bentuk pengakuan bahwa umat juga adalah orang yang berdosa, yang meminta untuk dilayakkan dan mau merendahkan diri untuk mencium cincin. Sikap hati inilah yang membuat seseorang mendapatkan belas kasihan Allah dan diampuni dosanya.

Uskup dan Paus merupakan orang pilihan yang sudah ditentukan oleh Kristus untuk menggembalakan umat-Nya. Maka mereka pun memiliki kewenangan untuk memberikan pengampunan dosa sesuai dengan ajaran Firman Tuhan.

Baca juga: Arti Huruf O Pada Lagu Gereja

4. Simbol Kesetiaan

Selain perbedaan batu permata yang menghiasi, setiap cincin uskup juga memiliki ukiran yang berbeda. Tiap cincin dari keuskupan yang berbeda akan memiliki ukiran atau simbol tertentu, tergantung dari keinginan uskup maupun pilihan dari keuskupan yang menaunginya.

Sebelum dikenakan, maka tanda kewenangan ini adakan diberkati dan kemudian dikenakan pada uskup dan paus pada saat pentahbisan. Proses cincin ini hingga bisa dikenakan memang sangat panjang, maka dari itu cincin ini menjadi sangat berharga.

Dengan dikenakannya cincin, maka terikatlah uskup tersebut kepada gereja dan juga umat. Sama seperti ketika dalam pernikahan, cincin merupakan bukti pengikat dan juga pengingat akan janji pernikahan. Setiap pasangan yang menggunakan cincin pernikahan akan diingatkan dengan komitmen mereka setiap kali mereka melihat cincin tersebut.

Maka saat umat mencium cincin ini, mereka juga sedang mengungkapkan kesetiaan yang sama terhadap gereja dan juga Kristus yang mengepalainya. Ada ungkapan kesetiaan dan juga kerendahan hati ketika seorang umat mencium cincin uskup.

5. Simbol Pelayanan

Para uskup merupakan perlambang dari rasul di masa kini. Maka cincin mereka adalah simbol pelayanan yang juga dilakukan oleh para rasul di awal gereja mula-mula. Sebagai seorang diaken, maka para uskup harus mau melayani semua umat tanpa pamrih dan tidak memandang status serta latar belakang pelayanan tersebut.

Dengan memakai cincin, maka seorang uskup dan paus sudah mengerti bahwa jalan hidup mereka kini ditentukan oleh aturan gereja dan juga Firman Tuhan. Setiap hari adalah bakti untuk pelayanan Tuhan dan pekerjaan Tuhan.

Maka ketika umat Katolik mencium cincin uskup, mereka juga sedang mengungkapkan komitmennya untuk ikut ambil bagian dalam pelayanan pekerjaan Tuhan sehingga Tuhan sendiri disenangkan dengan hal tersebut.

Sebab pelayanan pekerjaan Tuhan tidak dapat dikerjakan sendiri. Semua orang harus ikut andil dalam pelayanan ini sebab inti dari mengikut Yesus adalah untuk saling melayani.

Baca juga: Fakta Kapel Sistina di Vatikan

6. Bentuk Penghormatan

Sama seperti pada masyarakat kita, budaya cium tangan adalah bentuk penghormatan orang yang lebih muda kepada yang lebih muda atau mereka yang lebih kecil kepada mereka yang lebih berpengaruh. Hal ini juga yang dilambangkan dengan proses mencium cincin uskup.

Tidak ada sama sekali unsur penyembahan yang berlebihan, sebab yang boleh disembah hanyalah Tuhan Allah, Raja atas semesta dan hidup kita. Maka tidak heran jika umat rela untuk berdesakan hanya untuk mendapatkan giliran mencium cincin uskup maupun paus.

Para uskup pun ketika bertemu dengan paus akan melakukan hal yang sama. Ini merupakan bentuk penundukan diri, kerendahan hati, dan juga penghormatan kepada para wakil Kristus di dunia ini.

Dengan menundukkan kepala dan mencium cincin, setiap orang menyatakan bentuk kerelaannya untuk mau diajar dan dibenarkan oleh mereka yang posisinya lebih tinggi dan menjadi kepercayaan Tuhan sebagai penggembala umat.

Baca juga: Lambang Roh Kudus

Tidak ada yang salah dengan tradisi dan arti mencium cincin uskup saat bersalaman. Semuanya adalah prosesi yang memiliki makna yang dalam. Maka harusnya permasalahan mengenai masih relevankah prosesi tersebut di masa kini bisa dijawab dengan mudah.

Ketika bertemu dengan orang yang dituakan, tentu secara norma kesopanan kita harus mau menundukkan diri, terlebih lagi jika bertemu dengan wakil Kristus di dunia ini. Ketika seseorang mau menundukkan dirinya, maka di saat itu pula Tuhan akan mampu berkarya di dalam hidupnya.

Heru Siswanto

Heru Siswanto adalah orang yang sangat menyukai hal-hal yang berkaitan dengan agama terutama Alkitab, renungan, doa, dan lagu rohani.