Batiknews.com – Berbagai macam warna untuk tujuan tertentu bermanfaat sebagai penanda dengan nilai filosofisnya sendiri. Begitu pula dengan warna liturgi dalam Gereja Katolik yang memiliki makna dan pemahamannya sendiri untuk setiap kebutuhan.
Dalam Perayaan Ekaristi, sudah ditetapkan beberapa warna pilihan ke dalam kalender liturgi. Sifatnya paten dan tidak bisa diubah maupun diperdebatkan oleh pihak internalnya sendiri. Nilai-nilai yang mengakar tentu sudah sesuai dan sejalan dengan tujuan Gereja dalam mengayomi umat.
Salah satu tantang menentu dari pembahasan warna liturgis adalah Indonesia sebagai negara yang heterogen dan multikultural. Misalnya, bagi salah satu etnis, pemilihan warna A bisa jadi memiliki makna negatif dan kontradiktif dari filosofi Gereja. Begitu pula dengan kasus sejenis lainnya.
Setiap warna sudah dipastikan berpusat pada Kristus atau Kristosentris yang tujuannya senantiasa mulia. Untuk itu, tidak perlu ada perdebatan menentu yang membahas soal pengertian dari masing-masing warna liturgi Gereja Katolik.
Baca juga: Doa Katolik Sebelum dan Sesudah Ibadah
Asal Usul Penggunaan Warna Liturgi
Melalui sejarah Gereja, setiap orang lebih mudah memahami mengenai pemakaian warna liturgi yang ditujukan pada setiap Perayaan Ekaristi. Paus Benediktus XIV menyatakan bahwa awalnya gereja memanfaatkan warna putih saja sebagai dasar dari warna liturgi.
Tidak lama, warna liturgi memiliki syarat dan ketentuan khusus yang informasinya diketahui berasal dari De Sacro Mysterioaltaris sejak masa Kepausan Bapa Suci Inosentius III.
Terdapat empat warna pokok yang dinyatakan oleh Paus, yaitu putih, hijau, merah, dan hitam. Pilihan warna ini menjadi ketentuan umum dari liturgi Gereja Katolik dan dinyatakan dalam Pedoman Umum Misale Romawi di perjalanannya sampai Konsili Vatikan II.
Dasar dari pemilihan warna ini memang mengambil acuan dari misteri yang senantiasa dirayakan oleh liturgi sekaligus pemaknaan dari kehidupan Kristiani dalam setiap tahun.
Seiring perkembangannya, saat ini sudah ada enam pilihan warna liturgi yang melengkapi peristiwa dari masing-masing perayaan Gereja Katolik. Warna-warna umum yang dipakai berupa putih, hijau, merah, hitam, ungu, serta merah muda.
Baca juga: Cara Merayakan Masa Adven bagi Umat Katolik
6 Warna Liturgi dalam Gereja Katolik
Sebagai simbol yang diutamakan selama beribadah, fungsi lain dari penggunaan warna ini adalah sebagai tanda khusus dari peristiwa dan kejadian gerejawi. Umumnya diaplikasikan pada pakaian imam, anggota paduan suara, serta pelayan Ekaristi lainnya dalam bentuk aksesoris, altar, serta stola.
Berikut 6 Warna Liturgi dalam Gereja Katolik:
1. Hijau
Warna ini biasa dipakai pada hari Minggu biasa atau masa biasa. Hijau memiliki arti yang lebih mendalam, yaitu kesegaran, kelegaan, ketenangan, serta aura yang manusiawi. Ada pengharapan yang besar dari semburat kontemplatif dari pancaran kehijauan.
Masa biasa umumnya jatuh pada seusai Masa Paskah, mulai hari Minggu Pentakosta, hingga hari Sabtu sebelum hari Minggu pertama di Masa Adven. Masa ini juga ditandai dengan pembacaan Kitab Injil sebagai penghayatan akan misi serta karya Kristus selam 3 tahun berada bersama manusia.
Hijau juga identik dengan warna tunas serta pohon-pohon yang lekat dengan keberadaan musim semi. Ada harapan di hari Pentakosta dalam pemberitaan dan perjanjian tentang Juru Selamat yang hadir ke dalam dunia.
2. Merah
Menandakan darah sebagai simbol pengorbanan yang telah dilakukan Kristus beserta setiap martir-Nya. Darah yang kudus rela dicurahkan sebagai penebusan dan karya kasih Allah kepada dunia. Tujuannya supaya setiap manusia mendapatkan kehidupan yang kekal.
Merah juga menunjukkan api sebagai lambang dari Pentakosta. Ada jiwa Roh Kudus yang menuntun para rasul dalam bersaksi mengenai Kristus dan anugerah-Nya bagi setiap jiwa, baik kepada musuh maupun sahabat.
Digunakan untuk memenuhi keperluan liturgi berikut:
- Minggu Palma
- Jumat Agung
- Minggu Pentakosta
- Perayaan Sengsara Tuhan
- Perayaan Para Rasul dan Pengarang Injil (kecuali Santo Yohanes)
- Perayaan Martir
3. Putih atau Kuning Emas
Menjadi lambang dari kemenangan, sukacita, kemurnian, kekudusan, sekaligus adanya cahaya ilahi. Kemegahan dari warna putih dan kuning emas menjadi pengingat akan kejadian dan peristiwa gembira yang dijalani Yesus, Bunda Maria, serta orang-orang kudus.
Adanya semburat kebangkitan memicu penggunaan warna putih sebagai perwakilan Masa Paskah, tepatnya kebangkitan Yesus Kristus. Adanya kebahagiaan selalu dilandasi dengan rasa percaya mengenai janji-janji Allah bagi anak-anak-Nya.
Putih atau kuning emas dipakai untuk hari-hari berikut:
- Masa Natal
- Masa Paskah
- Perayaan Tuhan Yesus, kecuali peristiwa sengsara
- Pesta Santa Perawan Maria, malaikat, serta orang kudus non martir
- Perayaan Pertobatan Santo Paulus
- Pesta Takhta Santo Petrus
- Lahirnya Santo Yohanes Pembaptis
- Pesta Santo Yohanes serta pelayan Injil
- Hari Raya Semua Orang Kudus
- Misa Arwah, opsional
Baca juga: Sejarah Masa Adven
4. Ungu
Pada zaman dahulu, warna ungu dikaitkan dengan warna yang mahal karena banyak dipakai untuk menyambut raja atau digunakan oleh raja sendiri. Umumnya, ungu akan dipakai untuk memperingati Masa Adven dan Masa Prapaskah. Bisa juga diaplikasikan untuk Misa Arwah sebagai ganti dari warna hitam.
Masa Prapaskah sarat akan berdoa, berpuasa, serta mengamalkan kasih dalam kehidupan. Manusia mengakui sekaligus menyesali setiap dosa yang sudah diperbuat. Menjadi lambang khusus dari penitensi dan pertobatan.
Masa Adven merupakan salah satu penantian akan janji Allah mengenai hadirnya Juru Selamat ke dalam dunia. Ungu identik dengan semburat dari adanya fajar mendahului matahari terbit. Sama dengan manusia yang menunggu kelahiran Sang Timur dalam menghapus dosa manusia.
5. Merah Muda
Termasuk dalam pilihan warna liturgi yang dianjurkan untuk dipakai, meskipun pilihannya opsional. Biasanya, warna rose atau merah muda bisa digunakan di hari Minggu Ketiga Masa Adven atau Minggu Gaudette serta Minggu Keempat Masa Prapaskah atau Minggu Laetare.
Merah muda menandakan bahwa manusia sudah memasuki masa pertengahan dari penantian yang memunculkan kebahagiaan. Keselamatan dari Mesias segera tiba untuk melingkupi setiap umat Allah yang menerima janji-Nya.
Tetapi, harus diingat bahwa merah muda masih dikelilingi oleh ungu supaya setiap orang tidak lupa bahwa rasa sesal dan tobat harus tetap diutamakan dalam waktu menunggu tersebut.
6. Hitam
Hampir sama seperti merah muda, warna hitam juga tergolong jarang digunakan. Hitam mewakilkan kenyataan bahwa manusia juga memiliki sisi penghakiman serta adanya keberadaan dosa. Namun, hal ini tidak secara langsung menghakimi manusia yang masuk surga atau neraka.
Hitam sendiri bekerja sebagai sebuah pengingat bahwa ada dampak yang harus diterima, apabila manusia tidak berusaha untuk menghidupi kekudusan.
Doa dan kekuatan yang dianugerahkan oleh-Nya boleh menjadi karunia bagi kehidupan manusia yang tidak luput dari dosa. Warna liturgi ini biasa diaplikasikan pada Misa Arwah maupun Peringatan Arwah Seluruh Orang Beriman.
Baca juga: Pengertian Hari Sabat dan Maknanya
Keberadaan warna-warna liturgi dalam Gereja Katolik mampu membawa manusia menghayati setiap perayaan yang diadakan. Setiap warna memiliki nilai filosofisnya masing-masing dan tetap berpusat pada keberadaan Kristus.
Ketentuan yang sudah ditetapkan Gereja Katolik kiranya mampu membawa umat dalam menimba pengertian dan tujuan dari setiap peringatan dan perayaan.