Sejarah Masa Adven dalam Agama Katolik

Persiapan dalam menantikan kelahiran Yesus tidak pernah lepas dari Masa Adven. Setiap perayaan secara liturgis dan pendorong keimanan rohani yang lebih baik nyatanya juga selalu berkaitan dengan sejarah Masa Adven agama Katolik. Hal ini tentu menarik untuk dipahami dan dipelajari.

Salah satu kebiasaan menonjol adalah bagaimana manusia mengupayakan pendekatan diri kepada Allah, melalui doa rutin serta pembacaan kitab suci setiap hari. Kedua aktivitas tersebut menjadi bukti nyata bahwa penantian itu sungguh ada dan setiap orang mampu merefleksikannya secara maksimal.

Sebuah masa penantian, pengharapan, dan persiapan dari manusia akan kelahiran Allah membawa rasa damai serta relasi antara dirinya dengan sesama. Diharapkan melalui ketiga tujuan tersebut, setiap umat Allah mampu memaknai pemahaman sebenarnya dari pengadaan Masa Adven setiap tahunnya.

Sesaat lagi, ada banyak hal seputar Masa Adven dan hubungannya dengan Natal yang akan dibahas satu per satu dalam menumbuhkan iman setiap pembacanya, terutama dalam masa persiapan tersebut.

Baca juga: 6 Cara Merayakan Masa Adven bagi Umat Katolik

Sejarah Masa Adven dalam Katolik

Istilah Adven berasal dari Bahasa Latin adventus yang memiliki arti kedatangan. Berdasarkan catatan sejarah, persiapan ini bertujuan untuk menyambut hari Natal sekaligus menantikan kedatangan Yesus, Sang Hakim Akhir Zaman.

Selain definisi tersebut, ada beberapa poin sejarah yang merangkum adanya Masa Adven bagi umat Katolik, yaitu:

1. Awal Mula di Abad Keempat

Catatan-catatan penting dari permulaan Masa Adven nyatanya sudah ada sejak Gereja abad ke-IV. Hal ini dipertahankan sekaligus ditegaskan kembali ketika Konsili Vatikan II berlangsung dan terjadi perubahan penyesuaian liturgi.

Dengan mengawali tradisinya di Perancis, para umat nyatanya masih memperingati Hari Raya Tiga Majus atau Hari Raya Epifani sebelum menjadi Masa Adven. Di sini, setiap orang berdoa dan berpuasa dalam kurun waktu 3 minggu. Tidak lama, rentang waktunya ditambah hingga menjadi 40 hari.

Di tahun 380, tiga minggu sebagai rentang waktu puasa untuk Epifani ditetapkan di Konsili Lokal Zaragoza yang diadakan di Spanyol. Selanjutnya di tahun 581, umat Allah bisa melakukan puasa mulai 11 November sampai hari Natal di hari Senin, Rabu, dan Jumat.

Kondisi tersebut sudah didukung dengan pengilhaman aturan Prapaskah. Dari Perancis, masa ini mulai menyebar hingga ke Inggris. Masa Adven mulai memasuki dan diawali oleh Roma mulai abad ke enam.

Berbagai bukti ditemukan untuk memperkuat sejarah ini, salah satunya dari homili pada minggu kedua Masa Adven dari Masa Kepausan St. Gregorius Agung pada 590-604.

2. Perjalanan Menjadi 4 Hari Minggu

Di dalam Buku Doa Misa Gelasian atau Gelasian Sacramentary, Paus St. Gelasius I menetapkan Masa Adven yang dijalani selama 5 minggu. Adven mulai ditetapkan sejak tahun 590 melalui sinode di Macon, Gaul. Hal ini dalam rangka penetapan masa persiapan sekaligus pertobatan akan kedatangan-Nya.

Doa-doa, tanggapan, bacaan, dan antifon disusun oleh Paus St. Gregorius Agung. Masa Adven mendapatkan perubahan rentang waktu oleh Paus St. Gregorius VII. Mulai abad ke-IX, Minggu Adven Pertama ditetapkan sebagai awal tahun dari penanggalan liturgi Gereja.

Hingga saat ini, umat Katolik melaksanakan Masa Adven mulai hari Minggu paling dekat dengan Hari Raya St. Andreas atau sekitar 30 November.

Baca juga: Arti Mencium Cincin Uskup Saat Bersalaman

3. Ada Arti Khusus di Setiap Minggu

Setiap umat akan mendapatkan masa perenungan sepanjang Masa Adven berlangsung. Dalam setiap hari Minggu, ada tema atau ujub doa tertentu yang dipanjatkan kepada Allah. Berikut makna dan rangkaian refleksi khusus dari Masa Adven yang perlu diketahui:

  • Minggu I bertemakan harapan dan biasanya ditandai dengan adanya lilin berwarna ungu atau lilin Nabi. Artinya, para nabi memberitakan kehadiran Yesus sebagai Sang Mesias. Kedatangan Yesus Putera Allah dinantikan oleh setiap umat Allah dengan penuh harapan dan sukacita.
  • Minggu II berarti cinta dan kesetiaan sebagai pengingat bahwa umat perlu menyiapkan jalan yang terbuka bagi kedatangan Tuhan. Lilin di minggu kedua disebut lilin Bethlehem yang menandakan Yesus Kristus sebagai Juru Selamat yang lahir di hati setiap manusia.
  • Minggu III berarti sukacita dengan ditemani satu lilin merah muda atau jambu dan dua lilin ungu dalam menyambut Tuhan Yesus. Lilin Gembala menjadi saksi kabar sukacita kelahiran-Nya yang kali pertama diberitakan kepada mereka yang tulus dan rendah hati.
  • Minggu IV dengan tema perdamaian turut diramaikan dengan satu lilin merah mudah serta tiga buah lilin ungu. Lilin Para Malaikat ini menjadi sebuah tanda sukacita serta kebahagiaan dalam menyambut Juru Selamat, yaitu Tuhan Yesus Kristus.

4. Katekismus Gereja Katolik atau KGK Mengenai Masa Adven

Tertulis di dalam KGK 524 yang isinya sebagai berikut:

“Dalam perayaan liturgi Adven, Gereja menghidupkan lagi penantian akan Mesias; dengan demikian umat beriman mengambil bagian dalam persiapan yang lama menjelang kedatangan pertama Penebus dan membaharui di dalamnya kerinduan akan kedatangan-Nya yang kedua” (Berdasarkan Wahyu 22:17).

“Dengan merayakan kelahiran dan mati syahid sang perintis, Gereja menyatukan diri dengan kerinduannya: Ia harus makin besar dan aku semakin kecil” (Berdasarkan Yohanes 3:30).”

Baca juga: Fakta Tentang Kapel Sistina Vatikan

5. Lingkaran Adven

Perlengkapan Masa Adven yang satu ini mulai dipasang di rumah-rumah umat sejak abad XVI. Umumnya, lingkaran Adven diletakkan di tempat-tempat yang terjangkau oleh pandangan setiap orang di dalam rumah, seperti ruang keluarga maupun ruang makan.

Adven Wreath atau lingkaran Adven tersusun dari daun-daun hijau yang segar menggunakan empat buah lilin. Hal ini diketahui berkembang dari kebiasaan penduduk Jerman sebelum kekristenan mengalami perkembangan.

Pemasangan ini menjadi sebuah pengingat bahwa perlu persiapan jiwa dalam menyambut kelahiran Sang Putera. Lingkaran bermakna sebagai sesuatu yang tiada akhir, seperti Allah yang bersifat abadi.

6. Lilin Adven

Berdasarkan keempat minggu dan tanda lilin yang menyertainya, maka ada empat buah lilin untuk mewarnai keberadaan lingkaran Adven. Tiga lilin ungu dan satu lilin pink mewakili Adven serta masing-masing dinyalakan berurutan sepanjang minggunya.

Mengapa ada warna pink atau merah muda? Hal ini terjadi karena adanya filosofi percampuran warna putih dan ungu.

Memiliki makna bahwa setiap sukacita yang dialami oleh masing-masing umat pada hari Natal mampu tertandingi oleh masa pertobatan dengan lambang warna ungu. Hingga tiba saatnya di Hari Natal, setiap lilin digantikan dengan lilin berwarna putih.

Namun, beberapa orang masih bisa menemukan tradisi peletakkan lilin putih di tengah sebagai tanda bahwa Yesus Kristus sudah datang dan menjadi puncak dari pelaksanaan Masa Adven tersebut.

Baca juga: Pengertian Nabi Menurut Gereja Katolik


Mengulik sejarah Masa Adven agama Katolik tentu menambah semangat setiap umat-Nya dalam mengimani penantian yang dilakukan dari tahun ke tahun. Tujuan lain yang diperoleh adalah pemahaman makna dan pengertian harfiah dari setiap tradisi yang dilaksanakan.

Kiranya Masa Adven menjadi sarana pendekatan diri kepada Allah dalam menyampaikan perenungan dan pertobatan dalam menyambut kelahiran-Nya.

Heru Siswanto

Heru Siswanto adalah orang yang sangat menyukai hal-hal yang berkaitan dengan agama terutama Alkitab, renungan, doa, dan lagu rohani.