Batiknews.com – Komuni merupakan sebuah bentuk keikutsertaan dalam aspek sakramental atau berarti lewat tanda dan sarana bersama Doa Syukur Agung. Tidak hanya itu, pengertian komuni dalam Gereja Katolik juga mampu mengungkapkan keimanan mengenai wafat serta kebangkitan Yesus Kristus.
Untuk itu, komuni perlu disertai dengan sikap iman yang sama antara umat satu dengan yang lain supaya tujuan kerohanian juga mampu terpenuhi. Tidak mungkin jika seseorang menyatakan sesuatu yang tidak diimani sama sekali. Komuni menjadi sebuah makna yang harus dihormati karena bersifat tinggi.
Perayaan Ekaristi berperan penting dalam suasana komuni yang khidmat dan penuh rasa syukur atas cinta kasih Allah bagi manusia. Ada persekutuan tubuh dan darah Kristus sekaligus pertemuan lebih intim di dalam iman.
Sebagai salah satu sakramen kudus, setiap umat perlu merasakan penghayatan atas setiap pengalaman iman yang terjadi. Dengan begitu, kesiapan hati dan pikiran mampu mendahului setiap langkah penerimaan komuni masing-masing pribadi.
Baca juga: 7 Cara Menjadi Lektor Gereja Katolik
Pengertian Komuni Pertama
Komuni adalah sebuah pernyataan iman dari umat Katolik dengan cara mendapatkan atau menerima tubuh dan darah Yesus Kristus melalui satu Ekaristi kudus. Hal ini bisa terjadi ketika seseorang sudah memenuhi ketentuan gereja dalam penerimaannya.
Beberapa syarat yang harus dipenuhi supaya seseorang boleh mendapat komuni adalah sudah dibaptis dalam bentuk yang sah oleh gereja dan menerima komuni pertama. Umumnya, komuni pertama diberikan sewaktu masih anak-anak berusia sekitar 10 tahun kisaran kelas 5 SD.
Tubuh Kristus sendiri hadir dalam bentuk roti yang dikonsekrasi lewat Doa Syukur Agung atau biasa disebut dengan hosti. Allah ikut hadir di tengah-tengah umat sebagai bentuk nyata dari komuni tersebut.
Menerima dan menyambut komuni harus dilakukan dalam sikap siap yang baik selama Perayaan Ekaristi. Ritus pembuka di awal hingga ritus penutup di akhir menjadi rangkaian keimanan yang harus diikuti dengan penuh hormat kepada-Nya.
Ada empat peristiwa penting yang terjadi di dalam komuni, yaitu diambil, diberkati, dipecah, dan dibagikan melalui konsekrasi Doa Syukur Agung.
Baca juga: Perbedaan Frater dan Bruder dalam Katolik
Syarat Menerima Komuni Pertama
Gereja memang tidak bisa sembarangan memberikan anggur atau roti kepada jemaat apabila belum memenuhi syarat, salah satunya adalah komuni pertama. Namun, komuni pertama juga memiliki keperluan yang harus dipenuhi terlebih dahulu oleh umat saat menghadiri serangkaian Perayaan Ekaristi.
1. Termasuk dalam Kesatuan Gereja Katolik
Penerima komuni pertama haruslah seorang Katolik dan sudah menjadi bagian dari Gereja Katolik. Syarat ini mutlak harus dipenuhi melalui baptisan. Setelah mengalami proses kelahiran, setiap manusia akan mendapatkan baptisan bayi.
Hal tersebut dilaksanakan berdasar pada keyakinan umat Katolik bahwa manusia yang lahir telah membawa dosa Adam dan Hawa atau dosa asal. Baptis bayi berperan dalam pencegahan bayang-bayang dosa tersebut sepanjang kehidupan.
Saat menapaki usia dewasa, manusia menerima baptisan dewasa dalam penghapusan dosa sekaligus meyakini adanya keselamatan hanyalah berasal dari penebusan Tuhan Yesus Kristus.
Namun, orang-orang non Katolik termasuk berbahaya jika harus memaksakan diri untuk menyambut komuni. Tertulis dalam 1 Korintus 11:29 “Karena barangsiapa makan dan minum tanpa mengakui tubuh Tuhan, ia mendatangkan hukuman atas dirinya”.
Kesehatan fisik dan spiritual mereka mudah terganggu jika kondisi ini terus dipaksakan. Perlu bimbingan sesuai kebutuhan gereja jika ingin mendapatkan kesempatan untuk menyambut komuni.
Baca juga: Misdinar Adalah
2. Memenuhi Aturan Usia
Di awal masa pembentukan hierarki Gereja Katolik, bayi yang lahir juga mendapatkan komuni pertama sekaligus. Beberapa lama kemudian, hal ini dianggap kurang pantas karena setiap pribadi harus mampu memaknai dan memahami sakramen Ekaristi tersebut.
Kitab Hukum Kanonik telah memuat persyaratan dan mengatur seputar penerima komuni, yaitu anak-anak yang sudah mampu memanfaatkan setiap akal budi dan pemahamannya. Hal ini juga didukung dengan persiapan yang seksama oleh orang yang lebih tua.
Selain itu, KHK juga menyatakan bahwa individu boleh menjalankan Ekaristi ketika mampu menghormati Ekaristi, dalam bahaya dan maut, serta mampu membedakan antara makanan biasa dengan Tubuh Kristus. Paulus sendiri sudah mengajarkan bahwa menyambut sesuatu haruslah dengan kesadaran.
Kelayakan tersebut juga ditunjang dengan penetapan minimal usia dari peserta komuni. Di samping itu, masih ada syarat dokumen-dokumen yang harus dipenuhi.
3. Menjalani Persiapan Komuni Pertama
Sebelum menyambut komuni pertama, anak-anak dibekali dengan persiapan tertentu yang disebut dengan katekese. Pembinaan ini biasa diberikan oleh pihak gereja.
Anak-anak akan mempelajari, memahami, dan menghafalnya di luar kepala mengenai doa-doa umat Katolik, Sepuluh Perintah Allah, Devosi Bunda Maria, dan sebagainya. Setiap pelajaran ini mampu membimbing dan menuntun perjalanan kehidupan setiap anak-anak Katolik dalam bertumbuh dewasa.
Baca juga: Arti Huruf O Pada Lagu Lagu Gereja
4. Melaksanakan Sakramen Pengakuan Dosa
Sakramen pertobatan mampu menjadi sarana untuk membimbing anak-anak dalam memaknai dosa dan bagaimana cara mengakuinya di hadapan Allah Tritunggal. Hal ini bertujuan untuk pelaksanaan komuni yang hanya dilakukan dalam kondisi teduh dan rahmat.
Firman Tuhan yang mendasari ketentuan ini diambil dari 1 Korintus 11:27. Kesimpulannya, seseorang berdosa bagi Tubuh dan Darah Kristus jika menyambutnya dalam kondisi yang tidak layak atau berdosa berat.
Kitab Hukum Kanonik mencakup peraturan yang mengatakan bahwa pengakuan dosa harus lebih dahulu dilakukan supaya diri seseorang layak menerima sakramen Ekaristi.
5. Berpuasa Sebelum Menyambut Komuni
Nyatanya, syarat ini berlaku untuk setiap penerima komuni dan tidak hanya bagi penyambut komuni pertama saja. Sebagai syarat wajib, puasa dilakukan mulai dari 1 jam sebelum penerimaan komuni berlangsung.
Persiapan ini bisa menjadi waktu yang pas untuk meneduhkan hati dan pikiran sebelum merasakan cinta kasih Allah lewat Tubuh dan Darah-Nya. Selain itu, penghayatan selama berpuasa mampu membantu manusia memaknai seluruh kehendak-Nya bagi umat di dunia.
Baca juga: 8 Lambang Roh Kudus dalam Seni
Doa Komuni Spiritual (Batin)
Kondisi yang tidak menentu seperti pandemi, nyatanya menghalangi setiap umat untuk berkumpul dan bersekutu di gereja secara langsung. Namun, tidak ada kata penghalang mampu menyatukan hati lewat doa sebelum menyambut komuni.
Meskipun tidak bisa menerima doa secara langsung, setiap pribadi berkesempatan memohon kepadaNya. Berikut isi Doa Komuni Batin yang dipanjatkan:
“Yesusku, aku percaya Engkau sungguh hadir dalam sakramen Maha Kudus. Aku mencintai-Mu lebih dari segalanya dan aku merindukan kehadiran-Mu dalam jiwaku.
Karena sekarang aku tak dapat menyambut-Mu dalam sakramen Ekaristi, datanglah sekurang-kurangnya secara rohani ke dalam hatiku. Seolah-olah Engkau telah datang, aku memeluk-Mu dan mempersatukan diriku sepenuhnya kepada-Mu. Jangan biarkan aku terpisah daripada-Mu. Amin.”
Setiap pengertian komuni dalam Gereja Katolik yang ditanamkan kepada setiap pribadi umat mampu mengiringi jalannya masing-masing kehidupan. Terlebih memaknai arti komuni sebagai sarana penyambutan Tubuh dan Darah Kristus untuk manusia.
Tidak akan ada yang bisa menghalangi manusia untuk memuji memuliakan Allah dalam kesempatan Perayaan Ekaristi. Diperlukan hati yang siap, hormat, dan mau mengakui dosanya.