Pengertian Kaul (Kemiskinan, Kemurnian, dan Ketaatan) dalam Katolik

Di dalam kehidupan, sudah pasti manusia akan menemukan manusia lain yang menjalani porsi hidupnya secara lebih religius. Ternyata, pengertian kaul dalam Gereja Katolik masih melekat dengan kondisi keimanan dan rohani cukup tinggi atau luar biasa.

Tidak sedikit pula mereka yang memutuskan untuk menyerahkan segenap aspek kehidupan hanya kepada Kristus saja. Bagaimana setiap sabda mampu memengaruhi kebaikan hakiki dan kekal bagi setiap manusia yang ada di dunia, sehingga mereka memutuskan untuk mengikrarkan hidupnya kepada Allah.

Kehidupan yang membiara tidak melulu tentang pekerjaan atau fungsi yang harus diikuti, melainkan bersama cara kehidupan atau corak yang diperoleh berdasarkan ikatan tertentu. Hal ini terangkum dengan penuh arti dan makna dari kaul yang harus ditambatkan pada hati, pikiran, jiwa, dan raga seseorang.

Menjalani makna kehidupan sebagai biarawan dan biarawati berarti mampu menenangkan diri, merenungkan, serta menghayati kehadiran Allah dalam diri sesama yang dilayani.

Pengertian Kaul Adalah

Kaul adalah janji yang sudah dipertimbangkan dan diikrarkan secara bebas oleh individu, dengan mengucapkannya di hadapan Allah serta mampu memenuhi janjinya dengan sepenuh hati. Hal ini harus dilakukan tanpa ada paksaan atau tekanan dari siapa pun.

Di dalam lingkup Gereja Katolik, kaul menjadi penting untuk para bruder, suster, iman, frater, serta seluruh pelayan Gereja yang hidup membiara. Tentu kaul telah dijanjikan oleh para pelayan dalam kepenuhan akal budi yang jernih.

Pengikatan ini terjadi kepada orang yang sudah mengucapkannya. Selain itu, ada tenggat waktu yang membuatnya tidak berlaku lagi pada seseorang. Ketiadaan pemberlakuan terjadi jika pemimpin Gereja memutuskan untuk memberhentikan pelayan tersebut supaya keluar dari kongregasi atau biaranya.

Kaul disebut tidak sah apabila ada di dalam kondisi paksaan atau seseorang masih under pressure tanpa kesiapan mental. Pertanggungjawabannya dipertanyakan dan cenderung dianggap tidak sah.

Di samping itu, kaul juga dibagi lagi menjadi dua, antara lain:
Kaul sementara diucapkan untuk memenuhi waktu satu sampai dua tahun saja. Selepas itu, kaul akan selesai otomatis dengan sendirinya.
Kaul kekal condong mengikat individu dalam waktu yang lebih panjang, kekal, dan memungkinkan sampai seumur hidup.

Baca juga: Cara Merayakan Masa Adven

Kaul dalam Sudut Pandang Konsili Vatikan II

Setiap orang yang mengikrarkan kaul bekerja untuk membantu keuskupan dan memberikan corak kehidupan berbeda sebagai seorang pelayan Tuhan. Tidak semata-mata atas fungsi Gereja, melainkan hidup dalam pembiaraan sendiri.

  • LG 47: “Maka dari itu, hendaklah setiap orang yang dipanggil untuk mengikrarkan nasihat-nasihat Injil sungguh-sungguh berusaha supaya bertahan dan semakin maju dalam panggilan yang diterimanya dari Allah, demi kesuburan kesucian gereja, serta kemuliaan Allah Tritunggal.”
  • LG 44: “Meskipun status yang terwujudkan dengan pengikraran nasihat-nasihat Injil, tidak termasuk susunan hierarkis gereja, namun juga tidak dapat diceraikan dari kehidupan dan kesucian gereja.”
  • LG 43: “nasihat-nasihat Injil didasarkan pada sabda dan teladan Tuhan.”
  • LG 13: “Di antara para anggota umat Allah terdapat perbedaan, entah karena jabatan, sebab ada beberapa yang menjalankan pelayanan suci demi kesejahteraan saudara-saudara mereka, entah karena corak dan tata tertib kehidupan, sebab cukup banyaklah yang dalam status hidup bakti menuju kesucian.”

Baca juga: Apa itu hari sabat

Tiga Nasihat Injil Kaul

Kaul maupun ikatan-ikatan suci yang ada mewajibkan pribadi religius untuk mau hidup berdasarkan Tiga Nasihat Injil. Hal ini berlaku dalam menjaga dirinya sendiri dalam melewati setiap rintangan, pencobaan, dan kekurangan yang harus dihadapi sebagai pelayan Allah.

1. Kaul Keperawanan atau Selibat

Menjadi inti dari hakikat kehidupan yang berbakti. Melalui kaul ini, seseorang mampu membaktikan dirinya secara menyeluruh hanya di hadapan Yesus Kristus.

Kaul keperawanan atau selibat mampu diwujudkan ke dalam setiap segi peristiwa dan pengalaman pelayan Allah sebagai corak atau bentuk luar biasa dari kehidupan. Hal tersebut juga didukung oleh kebaktian permandian sebagai sikap dan tanggung jawab penyerahan diri sebagai seorang Kristen.

Tetapi, bukan berarti selibat selalu diartikan dengan sekadar tidak kawin. Inti atau pokok dari kaul ini adalah penyerahan diri secara total kepada Kristus melalui pernyataan kepada diri sendiri untuk meninggalkan hal-hal bersifat duniawi hanya untuk-Nya.

Pribadi tersebut juga perlu mengutamakan sikap yang senantiasa mengarahkan diri kepada-Nya, terkhusus dalam hidup penuh dengan doa, permohonan, dan ucapan syukur.

Tantangan dari kehidupan selibat dapat dilihat dari konsep seksualitas sebagai sesuatu yang menyenangkan, tanpa memandang sisi pandang dari kerohanian. Namun, keperawanan atau selibat mampu memberikan keteladanan dari kemurnian hidup bagi Allah yang berupa:

  • Penguasaan dan keseimbangan pribadi
  • Psikologis dan afektif yang lebih matang
  • Contoh solidaritas untuk orang-orang yang terpinggirkan

2. Kaul Kemiskinan

Menurut Kitab Hukum Kanonik, kaul kemiskinan telah ditetapkan menurut peraturan hukum masing-masing tarekat. Ada dua aspek berbeda yang bisa ditemukan, yaitu asketis dan apostolis.

Asketis sendiri merupakan gaya hidup sederhana dari biarawan tersebut. Sedangkan, apostolis berarti demi kerasulan ada kerelaan untuk menyumbangkan segala sesuatu. Apostolis tidak melulu bergantung pada harta, namun menyerahkan keahlian, tenaga, waktu, dan seluruh kelebihan yang ada dalam hidup.

Hidup miskin berarti seharusnya membatasi diri dalam menggunakan keperluan duniawi dalam memenuhi kebutuhan manusia. Semangat kemiskinan bahkan telah ditunjukkan terlebih dahulu oleh Kristus, ketika Ia mengajak murid dan pengikutnya untuk pikul salib serta mengikuti jalan-Nya menuju Bapa.

Di samping itu, masih ada semangat yang hidup untuk memperlihatkan sikap teladan, rendah hati, sekaligus pemilihan kesederhanaan sebagai gaya hidup paling sejati. Keadilan masyarakat dan lingkungan mampu dicapai berlandaskan Yesus sendiri.

3. Kaul Ketaatan

Juga terbagi menjadi aspek asketis dan apostolis. Namun, melalui kerangka latihan hidup rohani ketaatan atau askese memiliki arti rasa patuh terhadap guru rohani. Sedangkan, hubungannya dengan kerasulan artinya rasa bakti dalam hidup cenderung mengarah pada kerasulan bersama.

Ketaatan ordo menunjukkan bukti kebersamaan antara biarawan biarawati yang ada. KHK menyatakan bahwa hidup persaudaraan menjadi ciri-ciri setiap tarekat, di mana lembaga religius berbeda dengan lembaga sekuler yang cenderung ramai.

Santo Thomas Aquinas memiliki gagasan bahwa kaul ketaatan merupakan panutan dari kaul lainnya. Hal tersebut dikarenakan kaul ketaatan yang menekankan pada kehendak Allah dan berjuang mencari kehendak-Nya dibandingkan kehendak sendiri atau pribadi.

Keinginan daging mampu menjauhkan manusia dari hidup murni. Oleh sebab itu, dibutuhkan ketaatan yang memiliki fondasi kitab suci yang dinyatakan dalam pikiran, perkataan, serta perbuatan dalam perjalanan hidup seorang pembiara sepanjang waktu.

Baca juga: Pengertian Frater dan Bruder


Memandang dan memahami pengertian kaul dalam Gereja Katolik membawa setiap umat pada kesadaran, bahwa mereka yang memutuskan untuk melayani Tuhan sepenuhnya harus mengikrarkan janji khusus sebagai penopangnya.

Ketiga kaul mampu menunjang kehidupan yang sudah pasti berlandaskan sabda dan teladan Allah yang senantiasa menilik manusia. Diperlukan sikap tanggung jawab yang tinggi dalam menjalankan keputusan sebagai pelayan Tuhan.

Heru Siswanto

Heru Siswanto adalah orang yang sangat menyukai hal-hal yang berkaitan dengan agama terutama Alkitab, renungan, doa, dan lagu rohani.