Pengertian Kardinal: Peran dan Proses Pemilihan Kardinal

Di dalam lingkup Gereja Katolik, setiap umat sudah pasti sering mendengar istilah Kardinal. Namun, sedikit yang memahami pengertian Kardinal: proses pemilihan dan peran mereka dalam Gereja Katolik. Padahal, kardinal adalah sebuah posisi yang penting untuk dibahas.

Terdapat beberapa tingkatan pemimpin Gereja Katolik yang mengemban tugasnya masing-masing dalam memenuhi kebutuhan setiap Gereja maupun umatNya. Hal tersebut dilakukan selama masa tugasnya menjadi pelayan Tuhan dengan sepenuh hati.

Ada baiknya setiap umat mengetahui urutan pemimpin Gereja yang biasanya dimulai dari Diakon, Imam, Uskup, Uskup Agung, serta Paus, turut meyakini posisi Kardinal di dalam tangga pelayanan tersebut. Kardinal sendiri bekerja dalam pemilihan Paus sebagai pemimpin umat Katolik di taraf dunia.

Dalam pengenalan lebih lanjut mengenai Kardinal dan pengaruhnya bagi Gereja Katolik, masih ada sejarah yang melekat serta bisa digali lebih dalam untuk menambah wawasan maupun memberikan motivasi bagi mereka yang terjun ke bidang pelayanan.

Pengertian Kardinal

Kardinal adalah salah satu gelar rohani tertua dalam sejarah Gereja Katolik. Kerdinal merujuk pada bahasa aslinya, yaitu Bahasa Ibrani, yang berarti inkardinasi. Maknanya sendiri adalah orang-orang yang ditunjuk secara khusus serta bekerja mendampingi Paus dalam menyelesaikan setiap tanggung jawabnya.

Selain itu, istilah Kardinal juga berasal dari Bahasa Latin “cardo” yang artinya engsel (jendela atau pintu). Gelar ini digagas dan dibentuk secara langsung oleh Paus Silvester I.

Kumpulan Kardinal ini membangun dan membentuk sebuah kolegium sebagai organ pelayanan penting di dalam lingkup Gereja Katolik.

Mulanya, Paul dipilih oleh klerus serta warga Gereja Roma. Hingga pada abad pertengahan, bangsawan Romawi memilih pengaruh yang besar dan merasa andil untuk melakukan pemilihan Paus. Sejak 1059, hak pilih ini ditujukan kepada Kardinal akibat kemandirian politik yang diperoleh Sri Paus.

Tidak lama kemudian, ditetapkan pembentukan Kardinal Mahkota sebagai bentuk pengajuan seorang klerus dari kepala negara yang bersangkutan. Hal ini terjadi karena adanya gerakan politik tertentu serta pengaruh dari raja-raja Perancis sebagai beberapa dari pemimpin dunia.

Seorang Kardinal memiliki ciri khusus yang membedakannya dari pemimpin Gereja Katolik lainnya. Jubah atau baju Kardinal biasanya memiliki warna merah dan biasa dipakai ketika perayaan atau ritus liturgi sudah tiba.

Baca juga: Pengertian Nabi Menurut Gereja Katolik

Proses Pemilihan Kardinal

Pemilihannya sendiri diserahkan kepada Paus yang memiliki hak prerogatif, tidak dengan pemilihan atau voting tertentu. Pada awalnya, Kardinal berjumlah sekitar 30 orang kemudian ditambahkan hingga 70 orang oleh Paus Sixtus V. Dewasa ini, kebutuhan Kardinal sudah bisa disesuaikan dengan keperluan dari Paus.

Dalam Konstitusi Apostolik Univerci Dominici Gregis, jumlah maksimal dari Kardinal Elektor atau yang memiliki hak memilih Paus pada konklaf sejumlah 120 orang. Kolegium Kardinal yang satu ini termasuk dalam Badan Hukum Gereja.

Paus akan memilih seluruh Kardinal secara bebas dengan sekurang-kurangnya sudah mendapatkan penasbihan presbiterat, ajarannya unggul, memiliki moral, saleh, dan selalu arif ketika bertindak. Dibutuhkan konsekrasi episkopal jika belum pernah bekerja sebagai Uskup.

Bila sudah siap, Paus mengangkat para Kardinal dalam kesempatan khusus di depan Kolegium Kardinal lainnya.

Berbagai pengalaman dan jasa-jasa yang luar biasa sebagai pelayan Tuhan mampu memberikan pertimbangan lebih kepada Paus dalam menentukannya.

Pemilihan ini kemudian dilanjutkan dengan prosesi pelantikan mereka-mereka yang akan bertugas sebagai Kardinal. Barulah tanggung jawabnya diperhitungkan sejak masa jabatan dimulai. Beberapa posisi kardinal yang dibedakan menurut proses pelantikannya, antara lain:

  • Kardinal Dekan dan Kardinal Subdekan yang saling berkoordinasi dengan berstatus Kardinal Uskup. Sistem administratifnya berada di gereja-gereja utama, sekitar daerah Roma.
  • Kardinal Imam mendapatkan pembagian institusi gereja-gereja titular yang ada di Roma.
  • Kardinal Diakon di area Roma dan sekitarnya dan pembagiannya termasuk institusi gereja di wilayah sosial-karitatif dan diakonia.

Baca juga: Pengertian Kaul (Kemiskinan, Kemurnian, dan Ketaatan) dalam Katolik

Peran Kardinal Dalam Gereja Katolik

Selain memiliki Kolegium Kardinal sebagai salah satu organ pelayanan penting untuk Badan Hukum, ada beberapa tanggung jawab lain yang harus mampu dipenuhi. Seluruhnya sudah pasti memberikan dampak khusus pada kelangsungan Gereja Katolik.

1. Memegang Pemerintahan Gereja Katolik Selama “Sedes Vacans”

Menjadi salah satu tugas yang sangat penting dan sudah melekat dalam diri Kardinal. Apabila satu waktu terjadi kekosongan jabatan Paus atau “Sedes vacans”, setiap Kardinal dari Kolegium bertugas untuk memimpin jalannya roda pemerintahan Gereja Katolik.

Ketiadaan posisi Paus atau Sedes vacans membawa para Kardinal untuk berkunjung ke Vatikan sekaligus mengadakan sidang harian atau pertemuan. Pada kesempatan tersebut akan dibahas banyak hal terkait pendukung jalannya pemerintahan.

2. Memilih Paus Baru

Tidak hanya itu, rapat harian yang diadakan juga membahas persiapan Konklav atau upacara khusus dalam memilih Paus yang baru.

Selama masa ini berlangsung, Kardinal tidak berhak untuk menggantikan, mengubah keputusan dan hukum yang sudah ditetapkan, serta mengalihkan ketetapan apapun yang sudah disahkan oleh Paus sebelumnya.

3. Menjadi Pemimpin Menurut Penugasannya Masing-Masing

Kardinal akan menerima tugas besarnya sebagai pemimpin menurut domisilinya masing-masing. Umumnya, pemenuhan tugasnya bisa berupa memimpin kantor-kantor Kuria di wilayah Vatikan, menjadi pemimpin Gereja Lokal di negaranya, serta menjadi pengarah atau penasihat Gereja Lokal tersebut.

Ini berarti setiap Kardinal yang tidak ditunjuk untuk bekerja di daerah Vatikan akan mengelola, tinggal, bekerja, serta melayani di wilayahnya masing-masing.

Namun, perlu diingat kalau Kardinal tidak seterusnya menjabat sebagai Pemimpin Konferensi para Uskup untuk mengayomi Gereja Lokal. Kondisi tersebut masih tergantung pada hasil pemilihan maupun kebutuhan secara independen.

Baca juga: Pengertian Hari Sabat & Maknanya dalam Gereja Katolik

4. Membantu dan Mendampingi Paus dalam Menjalankan Tugasnya

Ada dua bentuk bantuan yang diberikan Kardinal kepada Paus selama menjalani tugas serta tanggung jawabnya, yaitu:

  • Kolegial jika Kardinal dipanggil untuk berkumpul dalam pembahasan masalah atau persoalan yang tergolong penting.
  • Individu ketika membantu Paus pada setiap reksa harian semua Gereja yang ada, terutama dengan posisi atau jabatan yang diemban.

5. Memenuhi Panggilan Konsistori

Konsistori merupakan kegiatan rapat atau perjumpaan dari setiap Kardinal yang dipanggil dan dikepalai oleh Paus. Kardinal akan membantu dan bekerja sama bersama Paus untuk memenuhi setiap tujuan. Dua jenis konsistori yang dimaksud, yaitu:

  • Konsistori biasa yang dihadiri seluruh Kardinal yang sekurang-kurangnya bertempat di wilayah Roma. Dipanggil untuk memenuhi konsultasi mengenai permasalah penting dan sering terjadi. Selain itu, untuk memenuhi pengadaan kegiatan meriah.
  • Konsistori luar biasa untuk dirayakan sebagai pemenuhan kebutuhan-kebutuhan Gereja Katolik maupun perkara yang cenderung lebih berat supaya segera ditangani.

Baca juga: Perbedaan Frater dan Bruder dalam Katolik


Setiap umat Katolik nyatanya perlu memahami dan mengetahui pengertian Kardinal beserta proses pemilihan dan peran mereka dalam Gereja Katolik. Dalam menjalani tanggung jawabnya, Kardinal senantiasa mengemban tugas untuk mendampingi Paus secara maksimal.

Kinerja Kardinal berlangsung penting dalam pemilihan Paus baru yang berhak memegang posisi sebagai pemimpin bagi seluruh umat Katolik.

Heru Siswanto

Heru Siswanto adalah orang yang sangat menyukai hal-hal yang berkaitan dengan agama terutama Alkitab, renungan, doa, dan lagu rohani.